bunga mekar

Sabtu, 22 November 2014

Melanjutkan Cerpen



JEJAK SI KAKI SATU
 
KARYA UNTUNG SULARNO

Minggu pagi, ketika Leon menyapu halaman, ia heran melihat jejak sepatu aneh di halaman rumahnya. Jejak sepatu itu hanya satu, yakni sepatu kanan, tanpa ada jejak sepatu kiri. Leon jadi penasaran ingin mengikuti jejak sepatu itu.
Perlahan ia melangkah mengikuti jejak sepatu yang hanya satu itu sambil berfikir dan mengingat-ingat sesuatu.
“Tidak! Tidak ada orang di kampong ini yang berkaki cacat. Pasti ini jejak orang asing!” seru Leon dalam hati.
Ketika jejak sepatu yang diikutinya semakin jauh, ia menjadi ragu. Apalagi ternyata jejak itu menuju ke rumah tua di ujung jalan, yang sudah lama tidak berpenghuni.
“Jangan-jangan jejak hantu!” seketika bulu kuduk Leon berdiri. Tetapi Leon memang pemberani. Ia tetap bersikeras untuk menyibak teka-teki jejak sepatu aneh itu. Ia membulatkan tekad memasuki pintu gerbang rumah tua itu.
Saat memasuki rumah tua yang memyeramkan itu, ia terkejut mendengar suara tawa orang dari dalam rumah. Jantungnya berdegup kencang. Ia berjingkat dari satu pohon ke pohon lain yang rimbun tidak terawatt. Kemudian merapatkan diri ke dinding, agar tidak terlihat orang di dalam rumah itu.
“Mungkin rumah ini sekarang menjadi sarang penjahat,” kata Leon dalam hati. Ia mengintip lewat jendela kaca. Lewat korden yang sedikit tersingkap ia bisa melihat dengan jelas, ada dua orang di ruang depan sedang bercakap-cakap. Tapi mereka bukanlah orang yang jejak kakinya diikuti Leon. Sebab kaki mereka tidak cacat. Siapakah mereka? Siapa pula orang yang jejak kakinya hanya satu itu? Leon bertanya-tanya di dalam hati.
Karena matahari semakin tinggi dan ia punya tugas rumah yang harus diselesaikan, Leon segera meninggalkan rumah tua itu. Namun ia tetap memantau rumah tua itu hingga tau siapa penghuninya.
Ketika Leon sampai di jalan, ia terkejut mendengar suara orang yang ditujukan kepadanya.
“Hai! Berhenti!”
Leon menoleh. Seketika jantungnya berdesir. Seseorang muncul dari semak belukar. Wajahnya berjambang menakutkan, dan juga pincang. Ia berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat penyangga. Dialah orang yang jejak kakinya diikuti Leon. Terbukti orang itu berjalan hanya dengan satu kaki.

“Jangan takut, Nak. Aku tidak bermaksud jahat.” Kata orang itu sambil mendekati Leon. Tetapi Leon tidak percaya. Ia menyangka orang itu pastilah salah satu dari gerombolan penjahat yang menghuni rumah itu.
Setapak demi setapak Leon melangkah mundur.
“Jangan takut, Nak! Jangan takut!” kata orang itu. Tetapi tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya ketika sebuah mobil tampak berjalan mendekat. Orang itu tergesa-gesa bersembunyi sambil berseru, menyuruh Leon pergi.
“Pergi! Cepat! Pergi!” teriaknya disertai isyarat gerakan tangan mengusir.
Sementara mobil semakin dekat, Leon baru sadar bahwa ia harus berhati-hati dengan mobil yang mungkin berisi orang jahat. Tetapi mungkin juga polisi yang bermaksud menggerebek gerombolan penjahat.
Leon dapat melihat dengan jelas empat orang pria segera turun dari mobil. Dengan gagah mereka berjalan menuju rumah tua.
“Apa yang hendak mereka lakukan?” Tanya Leon di dalam hati. Ia terus melangkah sambil menoleh ke belakang memperhatikan 4 orang itu. Tiba-tiba saja ia dikejutkan pria bercambang tadi yang telah berdiri di depannya. Lagi-lagi jantung Leon berdegup kencang.
“Jangan takut, Nak. Namaku Dibyo. Aku mantan polisi. Kakiku cacat terkena golok penjahat waktu menjalankan tugas dulu. Sekarang aku minta tolong padamu sekali ini saja. Teleponlah nomor ini. Katakan bahwa Dibyo masuk perangkap! Sekarang juga, Nak! Larilah sebelum mereka menghilangkan jejak!” Kata bapak bernama Dibyo ini.
Tanpa pikir panjang Leon menerima sesobek kertas itu, lalu lari sekencang-kencangnya untuk pulang. Sesekali ia menoleh ke belakang. Dilihatnya Pak Dibyo merangkak di bawah mobil untuk memutus kabel. Sesampai di rumah ia langsung menuju telepon dan menyampaikan pesan Pak Dibyo dengan benar.
“Pesan Pak Dibyo saya terima. Elang segera meluncur!” Leon menjadi lega mendengar jawaban si penerima telepon, meski ia tidak tau arti sandi itu.  Ia segera berlari keluar lagi. Di ujung jalan sana tampak sebuah mobil merah tetap pada posisinya semula. Leon terus berlari untuk menemui Pak Dibyo yang kini bersembunyi di balik rimbunnya semak belukar.
“Bagaimana?” Tanya Pak Dibyo.
“Pesan Pak Dibyo saya terima, Elang segera meluncur,” jawab Leon.
“Bagus, sekarang pulanglah, Nak! Terimakasih kau telah membantuku,” kata Pak Dibyo. Tetapi Leon tidak mau pulang. Apalagi setelah melihat pasukan polisi berdatangan bergerak maju dari berbagai arah mengepung rumah tua itu.
“Kau tau siapa orang-orang yang ada di dalam rumah tua itu?” Tanya Pak Dibyo. Leon menggeleng.
“Mereka adalah pengedar narkoba. Mereka sedang melakukan transaksi. Mereka memang licin, selalu berpindah-pindah sehingga sulit dijebak dan diringkus. Tetapi lihatlah! Sekarang mereka harus menyerah,” kata Pak Dibyo menemani Leon menyaksikan penggerebekan kawanan penjahat itu. Ia pun melihat seorang polisi mendatangi Pak Dibyo dengan rasa hormat. Polisi itu berterima kasih atas informasi yang diberikan Pak Dibyo. Juga kepada Leon yang bersusah payah ikut menyampaikan informasi itu.
Beberapa saat kemudian Leon melihat Pak Dibyo berjalan kaki meninggalkan jejak sepatu yang hanya satu. Jejak yang pernah membuatnya heran dan takut.
***


PAK DIBYO

karya Salsabila :)



Beberapa hari kemudian, Leon kembali menemukan jejak sepatu itu lagi. Leon mengikuti jejak kaki itu, namun ia juga melihat ceceran darah di sekitar jejak kaki itu. Leon semakin penasaran dan pikirannya sudah tidak karuan.
“Ada apa ya sama Pak Dibyo? Kok ada ceceran darah begini?? Jangan-jangan… Ahh,  tidak mungkin.” Ujar Leon sambil memukul-mukul rambutnya.
Leon terus mengikuti jejak itu, namun semakin lama, jejak kaki itu semakin hilang. Darah yang berceceran juga semakin tak tampak. Jejak kaki itu mengarah menuju hutan. Leon terus menelusurinya karna sangat-sangat penasaran. Kini, jejak kaki itu mulai tampak lagi. Namun, sesampai di tengah hutan, tepatnya di sungai, jejak kaki itu hilang tanpa bekas.
Walaupun jejak kaki itu hilang tanpa bekas, namun ceceran darahnya justru bertambah banyak. Leon terus mengikuti ceceran darah itu, hingga akhirnya ia menemukan tubuh Pak Dibyo yang sudah terbaring lemah dan berlumuran darah. Leon menggoncang-goncangkan tubuh Pak Dibyo, namun Pak Dibyo tak bereaksi sedikitpun.
“Pak Dibyo, ada apa sama Bapak? Kenapa Bapak tak bereaksi ketika saya goncang-goncangkan tubuh Bapak? Bangun Pak, bangun!!” ucap Leon sambil setengah menangis dan menggoncang-goncangkan tubuh Pak Dibyo.
Leon menghubungi nomor polisi yang pernah Pak Dibyo berikan kepadanya. Ia menceritakan semua yang terjadi pada Pak Dibyo, dan mereka juga berkata bahwa akan segera datang. Leon lega mendengar jawaban itu.
“Untung aku membawa hand phone, coba kalau tidak. Aku harus pulang untuk bisa menelepon.” Ujar Leon.
Selang beberapa menit kemudian, para polisi datang bersama AMBULANCE.  Pak Dibyo pun dinaikkan ke AMBULANCE untuk segera dibawa ke Rumah Sakit. Sedangkan Leon ditanyai beberapa hal oleh para polisi.
“Terimakasih dek, telah membantu kami, kami akan selidiki lebih lanjut tentang kasus ini. Kami hendak ke Rumah Sakit, adek mau ikut?” Tanya seorang polisi.
Leon hanya menganggukkan kepalanya. Mereka ke Rumah Sakit tempat Pak Dibyo dirawat. Setelah diselidiki, ternyata di bagian perut Pak Dibyo ada bekas tusukan. Polisi akan menyelidiki lebih lanjut kasus ini.
Selang beberapa hari, setelah penyelidikan diketahui bahwa Pak Dibyo dibunuh oleh teman dari pengedar narkoba yang tertangkap kemarin. Dia tidak terima temannya ditangkap, maka ia pun menyerang Pak Dibyo. Akhirnya Sang pelaku pun ditangkap dan dipenjara seumur hidup. Sedangkan Pak Dibyo dimakamkan di pemakaman dekat rumah Leon.
“Leon, kami menemukan ini di saku Pak Dibyo.” Ucap seorang polisi.
“Apa ini Pak?” Tanya Leon bingung.
“Ini surat terakhir yang ditulis Pak Dibyo untukmu.” Jawab polisi yang lain.
Leon membaca surat itu. Isi surat :
Leon, Bapak minta kamu akan selalu menjadi anak yang baik, pemberani dan suka menolong. Jadilah polisi ketika kamu besar nanti, karna dunia ini akan senang, tenang dan damai ketika kau menjadi seorang polisi. Terimakasih kamu sudah mau membaca surat ini, semoga berguna bagimu.
Pak Dibyo 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar