JEJAK SI KAKI SATU
KARYA
UNTUNG SULARNO
Minggu
pagi, ketika Leon menyapu halaman, ia heran melihat jejak sepatu aneh di
halaman rumahnya. Jejak sepatu itu hanya satu, yakni sepatu kanan, tanpa ada
jejak sepatu kiri. Leon jadi penasaran ingin mengikuti jejak sepatu itu.
Perlahan
ia melangkah mengikuti jejak sepatu yang hanya satu itu sambil berfikir dan
mengingat-ingat sesuatu.
“Tidak!
Tidak ada orang di kampong ini yang berkaki cacat. Pasti ini jejak orang
asing!” seru Leon dalam hati.
Ketika
jejak sepatu yang diikutinya semakin jauh, ia menjadi ragu. Apalagi ternyata
jejak itu menuju ke rumah tua di ujung jalan, yang sudah lama tidak
berpenghuni.
“Jangan-jangan
jejak hantu!” seketika bulu kuduk Leon berdiri. Tetapi Leon memang pemberani.
Ia tetap bersikeras untuk menyibak teka-teki jejak sepatu aneh itu. Ia
membulatkan tekad memasuki pintu gerbang rumah tua itu.
Saat
memasuki rumah tua yang memyeramkan itu, ia terkejut mendengar suara tawa orang
dari dalam rumah. Jantungnya berdegup kencang. Ia berjingkat dari satu pohon ke
pohon lain yang rimbun tidak terawatt. Kemudian merapatkan diri ke dinding,
agar tidak terlihat orang di dalam rumah itu.
“Mungkin
rumah ini sekarang menjadi sarang penjahat,” kata Leon dalam hati. Ia mengintip
lewat jendela kaca. Lewat korden yang sedikit tersingkap ia bisa melihat dengan
jelas, ada dua orang di ruang depan sedang bercakap-cakap. Tapi mereka bukanlah
orang yang jejak kakinya diikuti Leon. Sebab kaki mereka tidak cacat. Siapakah
mereka? Siapa pula orang yang jejak kakinya hanya satu itu? Leon bertanya-tanya
di dalam hati.
Karena
matahari semakin tinggi dan ia punya tugas rumah yang harus diselesaikan, Leon
segera meninggalkan rumah tua itu. Namun ia tetap memantau rumah tua itu hingga
tau siapa penghuninya.
Ketika
Leon sampai di jalan, ia terkejut mendengar suara orang yang ditujukan
kepadanya.
“Hai!
Berhenti!”
Leon
menoleh. Seketika jantungnya berdesir. Seseorang muncul dari semak belukar.
Wajahnya berjambang menakutkan, dan juga pincang. Ia berjalan tertatih-tatih
menggunakan tongkat penyangga. Dialah orang yang jejak kakinya diikuti Leon.
Terbukti orang itu berjalan hanya dengan satu kaki.
“Jangan
takut, Nak. Aku tidak bermaksud jahat.” Kata orang itu sambil mendekati Leon.
Tetapi Leon tidak percaya. Ia menyangka orang itu pastilah salah satu dari
gerombolan penjahat yang menghuni rumah itu.
Setapak
demi setapak Leon melangkah mundur.
“Jangan
takut, Nak! Jangan takut!” kata orang itu. Tetapi tiba-tiba saja ia
menghentikan langkahnya ketika sebuah mobil tampak berjalan mendekat. Orang itu
tergesa-gesa bersembunyi sambil berseru, menyuruh Leon pergi.
“Pergi!
Cepat! Pergi!” teriaknya disertai isyarat gerakan tangan mengusir.
Sementara
mobil semakin dekat, Leon baru sadar bahwa ia harus berhati-hati dengan mobil
yang mungkin berisi orang jahat. Tetapi mungkin juga polisi yang bermaksud
menggerebek gerombolan penjahat.
Leon
dapat melihat dengan jelas empat orang pria segera turun dari mobil. Dengan
gagah mereka berjalan menuju rumah tua.
“Apa
yang hendak mereka lakukan?” Tanya Leon di dalam hati. Ia terus melangkah
sambil menoleh ke belakang memperhatikan 4 orang itu. Tiba-tiba saja ia
dikejutkan pria bercambang tadi yang telah berdiri di depannya. Lagi-lagi
jantung Leon berdegup kencang.
“Jangan
takut, Nak. Namaku Dibyo. Aku mantan polisi. Kakiku cacat terkena golok
penjahat waktu menjalankan tugas dulu. Sekarang aku minta tolong padamu sekali
ini saja. Teleponlah nomor ini. Katakan bahwa Dibyo masuk perangkap! Sekarang
juga, Nak! Larilah sebelum mereka menghilangkan jejak!” Kata bapak bernama
Dibyo ini.
Tanpa pikir panjang Leon
menerima sesobek kertas itu, lalu lari sekencang-kencangnya untuk pulang.
Sesekali ia menoleh ke belakang. Dilihatnya Pak Dibyo merangkak di bawah mobil
untuk memutus kabel. Sesampai di rumah ia langsung menuju telepon dan menyampaikan
pesan Pak Dibyo dengan benar.
“Pesan Pak Dibyo saya terima.
Elang segera meluncur!” Leon menjadi lega mendengar jawaban si penerima
telepon, meski ia tidak tau arti sandi itu.
Ia segera berlari keluar lagi. Di ujung jalan sana tampak sebuah mobil
merah tetap pada posisinya semula. Leon terus berlari untuk menemui Pak Dibyo
yang kini bersembunyi di balik rimbunnya semak belukar.
“Bagaimana?” Tanya Pak Dibyo.
“Pesan Pak Dibyo saya terima,
Elang segera meluncur,” jawab Leon.
“Bagus, sekarang pulanglah,
Nak! Terimakasih kau telah membantuku,” kata Pak Dibyo. Tetapi Leon tidak mau
pulang. Apalagi setelah melihat pasukan polisi berdatangan bergerak maju dari
berbagai arah mengepung rumah tua itu.
“Kau tau siapa orang-orang
yang ada di dalam rumah tua itu?” Tanya Pak Dibyo. Leon menggeleng.
“Mereka adalah pengedar
narkoba. Mereka sedang melakukan transaksi. Mereka memang licin, selalu
berpindah-pindah sehingga sulit dijebak dan diringkus. Tetapi lihatlah!
Sekarang mereka harus menyerah,” kata Pak Dibyo menemani Leon menyaksikan
penggerebekan kawanan penjahat itu. Ia pun melihat seorang polisi mendatangi
Pak Dibyo dengan rasa hormat. Polisi itu berterima kasih atas informasi yang
diberikan Pak Dibyo. Juga kepada Leon yang bersusah payah ikut menyampaikan informasi
itu.
Beberapa saat kemudian Leon
melihat Pak Dibyo berjalan kaki meninggalkan jejak sepatu yang hanya satu.
Jejak yang pernah membuatnya heran dan takut.
***
PAK DIBYO
karya Salsabila :)
Beberapa hari
kemudian, Leon kembali menemukan jejak sepatu itu lagi. Leon mengikuti jejak
kaki itu, namun ia juga melihat ceceran darah di sekitar jejak kaki itu. Leon
semakin penasaran dan pikirannya sudah tidak karuan.
“Ada apa ya sama
Pak Dibyo? Kok ada ceceran darah begini?? Jangan-jangan… Ahh, tidak mungkin.” Ujar Leon sambil
memukul-mukul rambutnya.
Leon terus
mengikuti jejak itu, namun semakin lama, jejak kaki itu semakin hilang. Darah
yang berceceran juga semakin tak tampak. Jejak kaki itu mengarah menuju hutan.
Leon terus menelusurinya karna sangat-sangat penasaran. Kini, jejak kaki itu
mulai tampak lagi. Namun, sesampai di tengah hutan, tepatnya di sungai, jejak
kaki itu hilang tanpa bekas.
Walaupun jejak kaki
itu hilang tanpa bekas, namun ceceran darahnya justru bertambah banyak. Leon
terus mengikuti ceceran darah itu, hingga akhirnya ia menemukan tubuh Pak Dibyo
yang sudah terbaring lemah dan berlumuran darah. Leon menggoncang-goncangkan
tubuh Pak Dibyo, namun Pak Dibyo tak bereaksi sedikitpun.
“Pak Dibyo, ada apa
sama Bapak? Kenapa Bapak tak bereaksi ketika saya goncang-goncangkan tubuh
Bapak? Bangun Pak, bangun!!” ucap Leon sambil setengah menangis dan
menggoncang-goncangkan tubuh Pak Dibyo.
Leon menghubungi
nomor polisi yang pernah Pak Dibyo berikan kepadanya. Ia menceritakan semua
yang terjadi pada Pak Dibyo, dan mereka juga berkata bahwa akan segera datang.
Leon lega mendengar jawaban itu.
“Untung aku membawa
hand phone, coba kalau tidak. Aku harus pulang untuk bisa menelepon.” Ujar
Leon.
Selang beberapa
menit kemudian, para polisi datang bersama AMBULANCE. Pak Dibyo pun dinaikkan ke AMBULANCE untuk
segera dibawa ke Rumah Sakit. Sedangkan Leon ditanyai beberapa hal oleh para
polisi.
“Terimakasih dek,
telah membantu kami, kami akan selidiki lebih lanjut tentang kasus ini. Kami
hendak ke Rumah Sakit, adek mau ikut?” Tanya seorang polisi.
Leon hanya
menganggukkan kepalanya. Mereka ke Rumah Sakit tempat Pak Dibyo dirawat.
Setelah diselidiki, ternyata di bagian perut Pak Dibyo ada bekas tusukan.
Polisi akan menyelidiki lebih lanjut kasus ini.
Selang beberapa
hari, setelah penyelidikan diketahui bahwa Pak Dibyo dibunuh oleh teman dari
pengedar narkoba yang tertangkap kemarin. Dia tidak terima temannya ditangkap,
maka ia pun menyerang Pak Dibyo. Akhirnya Sang pelaku pun ditangkap dan
dipenjara seumur hidup. Sedangkan Pak Dibyo dimakamkan di pemakaman dekat rumah
Leon.
“Leon, kami
menemukan ini di saku Pak Dibyo.” Ucap seorang polisi.
“Apa ini Pak?”
Tanya Leon bingung.
“Ini surat terakhir
yang ditulis Pak Dibyo untukmu.” Jawab polisi yang lain.
Leon membaca surat
itu. Isi surat :
Leon, Bapak minta
kamu akan selalu menjadi anak yang baik, pemberani dan suka menolong. Jadilah
polisi ketika kamu besar nanti, karna dunia ini akan senang, tenang dan damai
ketika kau menjadi seorang polisi. Terimakasih kamu sudah mau membaca surat
ini, semoga berguna bagimu.
Pak
Dibyo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar