bunga mekar

Senin, 14 Desember 2015

Wisata di daerah Yogyakarta

1. Masjid Jogokariyan

Dijalan jogokaryan,tepatnya disebrang barat laut masjid jogokaryan,berdiri  tegak sebuah baliho bertuliskan “akan segera dibangun islamic center masjid jogokaryan..” dengan gambar bangunan bertingkat 3 disamping masjid jogokaryan.sang baliho menyampaikan sebuah agenda besar jama’ah masjid jogokaryan,sebuah islamic center...
Di zaman Rasulullah , masjid adalah Pusat Pengembangan Umat. Nyaris di hampir seluruh bidang strategis ; ekonomi,sosial,politik,budaya,dan pendidikkan dijaman Rosull semuanya tergarap dengan baik.bahkan ketika awal-awal nabi hijrah ke madinnah,masjid lah yang pertama beliau dirikan.namun sayang dimasa kini,fungsi masjid seperti yang diteladankan dimasa Rosulullah Saw masih dioptimalkan.tidak hanya itu,menumbuhkan kesadaran umat untuk memakmurkan masjid dengan memenuhi kualitas fungsionalnya masih menjadi satu tugas besar yang harus dilakukan.
          Dari 15 masjid yang pernah diteliti oleh Teuku Amiruddin dan Supardi (penulis buku) “manajemen masjid dalam pembangunan masyarakat” pada tahun 2001 dikota Yogyakarta ini,hampir semua pengurus (takmir) nya ternyata tak merasa perlu) mendata profil jama’ahnya,ketidakpedulian pada profil jama’ah membawa implikasi negatif berupa proses gredekradasi makna masjid. Masjid sebagai pusat perjuangan multivaset umat,sebagaimana dulu nabi pernah memperlakukan masjid,menjadi masjid yang tak sekedar sebagai tempat untuk ritual mahdoh:shalat.
          Kondisi seperti inilah yang melatar belakangi berkembangnya konsep manajemen masjid Jogokariyanbeberapa tahun belakangan ini. Masjid Jogokariyan berusaha menampilkan masjid sebagai pusat kegiatan umat baik kegiatan ibadah,sosial,ekonomi,dan pendidikkan,dsb.rasa kecintaan dan kepemilikan akan masjid juga di tanamkan kepada jamaah agar kesinambungan dakwah untuk mewujudkan optimali fungsi masjid dapat terjamin.

          Kegiatan di masjid jogokariyan saat ini telah menunjukan perkembangan yang luar biasa.Hal ini dapat di lihat dari perkembangan jumlah jamaah tiap tahunnya.Dengan jumlah jamaah dan berbagai macam kegiatan yang di selenggarakan untuk memakmurkan masjid ini yang begitu banyak,selain di butuhkan semangat spiritualitas, tak bisa di pungkiri bahwa kita membutuhkan fasilitas yang melatar belakangi munculnya ide dibangunnya “Islamic Center Masjid Jogokarian.”

2. Desa Wisata Kasongan

Sejarah
Sejarah desa wisata Kasongan berawal dari kematian seekor kuda milik Reserse Belanda di atas persawahan milik seorang warga di sebuah desa di selatan Kota Yogyakarta. Karena si pemilik tanah takut akan dijatuhi hukuman oleh Belanda yang waktu itu sedang menjajah, maka pemilik tanah tersebut melepaskan hak kepemilikan tanahnya yang diikuti oleh warga lainnya yang juga takut akan dijatuhi hukuman. Sejumlah tanah persawahan itu akhirnya diakui oleh warga desa lain. Penduduk yang tidak memiliki tanah persawahan tadi akhirnya memulai kegiatan baru di sekitar rumahnya, yaitu mengolah tanah liat yang ternyata tidak pecah jika diempal-empalkan untuk perlengkapan dapur dan juga untuk mainan.
Sejalan dengan perkembangan zaman, maka barang-barang kerajinan dari tanah liat atau lebih dikenal dengan kerajinan gerabah atau tembikar itu dikembangkan menjadi lebih variatif sesuai dengan kebutuhan dan keinginan pasar. Bahkan barang kerajinan di Desa Kasongan bukan hanya barang-barang dari tanah liat/ gerabah, tetapi saat ini warga Kasongan telah memanfaatkan bahan-bahan lainnya yang banyak terdapat di lingkungan sekitar seperti batok kelapa, bambu, rotan, kayu, dan lainnya untuk diolah menjadi barang hiasan yang memiliki nilai lebih tinggi. Keahlian membuat gerabah ini diwariskan turun-temurun hingga menjadikan Desa Kasongan sebagai ikon desa wisata gerabah di Kabupaten Bantul.

Desa Wisata Kasongan
Desa wisata Kasongan merupakan daerah pemukiman para kundi, atau buyung atau gundi, yang artinya orang yang membuat sejenis buyung, gendi, kuali, dan lainnya yang tergolong peralatan dapur, juga barang hiasan yang terbuat dari tembikar atau tanah liat.
Hingga saat ini Desa Kasongan menjadi salah satu tujuan desa wisata di Yogyakarta yang banyak diminati oleh wisatawan. Deretan show room atau rumah-rumah galeri di desa wisata Kasongan ini menawarkan barang-barang kerajinan dari gerabah serta dari bahan lainnya seperti guci, pot bunga, lampu hias, miniatur alat transportasi (becak, sepeda,  mobil), aneka tas, patung, souvenir untuk pengantin, serta hiasan lainnya yang menarik untuk dipajang di rumah.
Salah satu patung yang legendaris di Desa Kasongan adalah patung Loro Blonyo. Loro Blonyo adalah patung sepasang pengantin yang dipercaya akan memberikan keberuntungan jika ditaruh di dalam rumah. Kita bisa menjumpai patung ini dalam berbagai pose. Patung ini pertama kali dikenalkan oleh Galeri Loro Blonyo yang diadopsi dari patung pengantin milikKraton Yogyakarta.
Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang proses pembuatan kerajinan gerabah tersebut, maka beberapa galeri menawarkan kursus singkat untuk Anda ikuti. Anda juga bisa melihat proses pembuatan gerabah di beberapa rumah produksi.

Lokasi
Desa WIsata Kasongan terletak di pedukuhan Kajen, Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Jika Anda berangkat dari Kota Yogyakarta, maka pergilah ke arah selatan hingga menemukan perempatan Dongkelan (perempatan Ring Road Selatan - Jalan. Bantul). Pilihlah jalan ke arah selatan melewati Jalan Bantul ini. Perjalanan dari perempatan Dongkelan ini hanya memakan waktu sekitar 10 menit atau 20 menit dari pusat kota. Jika telah sampai di desa wisata Kasongan, Anda akan disambut oleh sebuah gerbang masuk ke desa wisata tersebut.

3. Pantai Baru Bantul

Profil

Pantai baru, pantai ini bisa dikatakan sebagai pantai paling muda di kawasan Yogyakarta. Pantai ini terletak di Kabupaten Bantul, tepatnya di Dusun Ngentak, Poncosari, Srandakan. Untuk mencapai pantai ini, sangatlah mudah bahkan tidak perlu membuka google maps atau wikimapia. Kalau mau berwisata ke pantai ini, tinggal ikuti Jalan Raya Bantul hingga Palbapang lalu belok ke kanan menuju Jalan Raya Srandakan. Terus saja hingga ketemu Jembatan Kali Progo. Ambil jalan ke kiri tepat sebelum jembatan Progo. Ikuti saja jalan aspal, hingga menemukan plang penunjuk arah Pantai Baru.
Papan Nama Pantai Baru
Saat ini Pantai Baru yang terletak Pantai Pandan Simo bagian Timur ( berbatasan dengan Pantai Kuwaru ) menjadi tempat wisata pantai yang handal mengingat potensi alam yang sangat menjanjikan, berupa pantai yang teduh, luas, landai, bersih dan nyaman serta terbebas dari polusi udara, sangat cocok untuk bersantai bersama keluarga. Secara fisik Pantai Baru terpisah dengan Pantai Pandan Simo ( lama dengan batas hutan lindung. Akses menuju Pantai Baru juga relatif mudah bagi kendaraan bermotor maupun bus-bus pariwisata. Terdapat tempat parkir yang memadai bagi kendaraan-kendaraan pengunjung.
Jalan Masuk Pantai
Panjang Pantai Baru lebih kurang 4000 m, mulai dari Pantai Kuwaru sampai muara Sungai Progo. Pantai Baru sebenarnya sudah terkenal sejak lama, karena di daerah tersebut terdapatwisata spiritual berupa petilasan tempat pertapa keluarga Kraton Ngayojokarto Hadiningrat yang sampai sekarang petilasan tersebut masih ada dan masih terawat, serta setiap tahun di gunakan untuk ajang Kompetisi Roket Nasional. Selain itu, terdapat model percontohan sistem inovasi daerah berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (solarcell) dan Angin (kincir angin).
Solar Sel
Pembangkit listrik hybrid ini dapat dikatakan sebagai satu-satunya di Yogyakarta alias tidak terdapat di pantai lain.
Suasana Pantai
Pantai Baru juga didukung dengan jejeran warung kuliner yang siap memuaskan selera pengunjung akan seafood dengan harga terjangkau serta rasa yang lezat. Yummy pokoke ! Pengunjung juga bisa menikmati santap kulinernya dengan menggelar tikar di bawah cemara, sambil merasakan semilir angin pantai.
Suasana Taman Cemara
Ayo berkunjung ke Pantai Baru . . . ! Ajak kawan, saudara, keluarga, sahabat, teman kantor, semuanya buat merasakan indahnya Pantai Baru !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar