SEJARAH PERKEMBANGAN
ISLAM
DI NUSANTARA
NAMA ANGGOTA :
Rizki Dwi Nur
Faidha (21)
Salsabila Eka
Pangestuti (22)
Shafa Ghina
Kamila (23)
Umi
Hanifah (24)
SMP NEGERI 1 SALAMAN
TAHUN PELAJARAN 2014/2015
1.
Sejarah
Masuknya Agama Islam ke Indonesia
Setelah berakhirnya kerajaan Hindu Buddha di Indonesia, berdirilah
kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia, antrara lain: kerajaan Samudra Pasai,
Aceh, Demak, Pajang, Mataram, Banten, Cirebon, Makasar, Ternate, Tidore dan
Banjar. Namun, untuk kerajaan-kerajaan tersebut akan dibahas pad artikel
selanjutnya. Kali ini kita akan membahas proses masuknya Agama Islam ke
Indonesia.
Islam lahir di Mekah tahun 611 Masehi
dengan ditandai dengan turunnya ayat AlQuran yang pertama. Mula-mula ajaran ini
berkembang di Mekah dan Madinah, kemudian berkembang di seluruh Timur Tengah,
Eropa Selatan dan ke wilayah timur hingga ke Indonesia.
Mulanya Islam dibawa oleh para pedagang
Gujarat, kemudian diikuti oleh orang-orang Arab dan Persia. Para pedagang ini
pada umumnya memeluk Islam. Sambil berdagang mereka menyebarkan ajran Islam di
tempat-tempat mereka berlabuh.
Ada
beberapa pendapat mengenai masuknya Islam ke Indonesia. Pendapat tersebut
mereka kemukakan berdasarkan bukti-bukti yang ditemukan. Pendapat yang
menyatakan pengaruh Islam mulai masuk ke Indonesia adalah antara abad ke-7 dan
ke-8. Pendapat ini mendasarkan bukti pada abad tersebut telah terdapat
perkampungan orang ISlam di sekitar Selat Malaka..
Pendapat lain menyatakan pengaruh Islam
mulai masuk ke Indonesia abad ke-11. Pendapat ini mendasarkan bukti pada sebuah
batu nisan Fatimah binti Maimun yang dikenal dengan Batu Leran di daerah Tuban
Jawa Timur yang berangka tahun 1082 Masehi
A. Proses Masuk dan Berkembangnya
Agama dan Kebudayaan Islam di Indonesia
Proses masuk dan berkembangnya agama
Islam di Indonesia menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul
Menemukan Sejarah, terdapat 3 teori yaitu:
-
Teori Gujarat,
-
Teori Makkah dan
-
Teori Persia.
Ketiga teori tersebut di atas
memberikan jawaban tentang permasalah waktu masuknya Islam ke Indonesia, asal
negara dan tentang pelaku penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara. Untuk
mengetahui lebih jauh dari teori-teori tersebut, silahkan Anda simak uraian
materi berikut ini;
1.
Teori Gujarat
Teori berpendapat bahwa agama Islam
masuk ke Indonesia pada abad 13 dan pembawanya berasal dari Gujarat (Cambay),
India. Dasar dari teori ini adalah:
·
Kurangnya
fakta yang menjelaskan peranan bangsa Arab dalam penyebaran Islam di Indonesia.
·
Hubungan
dagang Indonesia dengan India telah lama melalui jalur Indonesia – Cambay –
Timur Tengah – Eropa.
·
Adanya
batu nisan Sultan Samudra Pasai yaitu Malik Al Saleh tahun 1297 yang bercorak
khas Gujarat.
Pendukung teori Gujarat adalah Snouck
Hurgronye, WF Stutterheim dan Bernard H.M. Vlekke. Para ahli yang mendukung
teori Gujarat, lebih memusatkan perhatiannya pada saat timbulnya kekuasaan
politik Islam yaitu adanya kerajaan Samudra Pasai. Hal ini juga bersumber dari
keterangan Marcopolo dari Venesia (Italia) yang pernah singgah di Perlak
(
Perureula) tahun 1292. Ia menceritakan bahwa di Perlak sudah banyak penduduk
yang memeluk Islam dan banyak pedagang Islam dari India yang menyebarkan ajaran
Islam.
2.
Teori Makkah
Teori ini merupakan teori baru yang
muncul sebagai sanggahan terhadap teori lamayaitu teori Gujarat. Teori Makkah
berpendapat bahwa Islam masuk ke Indonesia pada abad ke 7 dan pembawanya
berasal dari Arab (Mesir). Dasar teori ini adalah:
1.
Pada abad ke 7 yaitu tahun 674 di pantai barat Sumatera sudah terdapat
perkampungan Islam (Arab); dengan pertimbangan bahwa pedagang Arab sudah
mendirikan perkampungan di Kanton sejak abad ke-4. Hal ini juga sesuai dengan
berita Cina.
2.
Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafi’i, dimana pengaruh mazhab
Syafi’i terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah. Sedangkan
Gujarat/India adalah penganut mazhab Hanafi.
Pendukung
teori Makkah ini adalah Hamka, Van Leur dan T.W. Arnold. Para ahli yang
mendukung teori ini menyatakan bahwa abad 13 sudah berdiri kekuasaan politik
Islam, jadi masuknya ke Indonesia terjadi jauh sebelumnya yaitu abad ke 7 dan
yang berperan besar terhadap proses penyebarannya adalah bangsa Arab sendiri.
3.
Teori Persia
Teori ini berpendapat bahwa Islam masuk
ke Indonesia abad 13 dan pembawanya berasal dari Persia (Iran). Dasar teori ini
adalah kesamaan budaya Persia dengan budaya masyarakat Islam Indonesia seperti:
v Peringatan 10
Muharram atau Asyura atas meninggalnya Hasan dan Husein cucu Nabi
Muhammad, yang sangat di junjung oleh orang Syiah / Islam Iran. Di Sumatra
Barat peringatan tersebut disebut dengan upacara Tabuik/Tabut. Sedangkan di
pulau Jawa ditandai dengan pembuatan bubur Syuro.
v Kesamaan ajaran Sufi yang
dianut Syaikh Siti Jennar dengan sufi dari Iran yaitu Al – Hallaj.
v Penggunaan istilah
bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab untuk tandatanda bunyi Harakat.
v Ditemukannya makam Maulana Malik Ibrahim tahun
1419 di Gresik..
Ketiga teori tersebut, pada dasarnya
masing-masing memiliki kebenaran dan kelemahannya. Maka itu berdasarkan teori
tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai
pada abad ke – 7 dan mengalami perkembangannya pada abad 13. Sebagai pemegang
peranan dalam penyebaran Islam adalah bangsa Arab, bangsa Persia dan Gujarat
(India).
Beberapa
Pendapat lain Tentang Awal Masuknya Islam di Indonesia.
Ø
Islam Masuk ke Indonesia Pada Abad ke
7:
1.
Seminar
masuknya islam di Indonesia (di Aceh), sebagian dasar adalah catatan
perjalanan Al mas’udi, yang menyatakan bahwa pada tahun 675 M, terdapat utusan
dari raja Arab Muslim yang berkunjung ke Kalingga. Pada tahun 648 diterangkan
telah ada koloni Arab Muslim di pantai timur Sumatera.
2.
Dari
Harry W. Hazard dalam Atlas of Islamic History (1954), diterangkan bahwa kaum
Muslimin masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dilakukan oleh para pedagang
muslim yang selalu singgah di sumatera dalam perjalannya ke China.
3.
Dari
Gerini dalam Futher India and Indo-Malay Archipelago, di dalamnya menjelaskan
bahwa kaum Muslimin sudah ada di kawasan India, Indonesia, dan alaya antara
tahun 606-699 M.
4.
Prof.
Sayed Naguib Al Attas dalam Preliminary Statemate on General
Theory of Islamization of Malay-Indonesian Archipelago (1969), di
dalamnya mengungkapkan bahwa kaum muslimin sudah ada di kepulauan
Malaya-Indonesia pada 672 M.
5.
Prof.
Sayed Qodratullah Fatimy dalam Islam comes to Malaysia
mengungkapkan bahwa pada tahun 674 M. kaum Muslimin Arab telah
masuk ke Malaya.
6.
Prof.
S. muhammmad Huseyn Nainar, dalam makalah ceramahnay
berjudul Islam di India dan hubungannya dengan Indonesia, menyatakan bahwa
beberapa sumber tertulis menerangkan kaum Muslimin India pada tahun 687 sudah
ada hubungan dengan kaum muslimin Indonesia.
7.
W.P.
Groeneveld dalam Historical Notes on Indonesia and Malaya
Compiled From Chinese sources, menjelaskan bahwa pada Hikayat Dinasti T’ang
memberitahukan adanya Aarb muslim berkunjung ke
Holing (Kalingga, tahun 674). (Ta Shih = Arab Muslim).
8.
T.W.
Arnold dalam buku The Preching of Islam a History of The
Propagation of The Moslem Faith, menjelaskan bahwa Islam datang dari Arab ke
Indonesia pada tahun 1 Hijriyah (Abad 7 M).
Ø
Islam Masuk Ke Indonesia pada Abad
ke-11:
Satu-satunya sumber ini adalah
diketemukannya makam panjang di daerah Leran Manyar, Gresik, yaitu makam
Fatimah Binti Maimoon dan rombongannya. Pada makam itu terdapat prasati huruf
Arab Riq’ah yang berangka tahun (dimasehikan 1082).
Ø
Islam Masuk Ke Indonesia Pada Abad
Ke-13:
1.
Catatan
perjalanan marcopolo, menyatakan bahwa ia menjumpai adanya kerajaan Islam
Ferlec (mungkin Peureulack) di aceh, pada tahun 1292 M.
2.
K.F.H.
van Langen, berdasarkan berita China telah menyebut adanya
kerajaan Pase (mungkin Pasai) di aceh pada 1298 M.
3.
J.P.
Moquette dalam De Grafsteen te Pase en Grisse Vergeleken Met
Dergelijk Monumenten uit hindoesten, menyatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia
pada abad ke 13.
4.
Beberapa
sarjana barat seperti R.A Kern; C. Snouck Hurgronje; dan
Schrieke, lebih cenderung menyimpulkan bahwa Islam masuk ke
Indonesia pada abad ke-13, berdasarkan saudah adanya beberapa
kerajaaan islam di kawasan Indonesia.Para Pembawa islam ke Indonesia
Sebelum
pengaruh islam masuk ke Indonesia, di kawasan ini sudah terdapat kontak-kontak
dagang, baik dari Arab, Persia, India dan China. Islam secara akomodatif,
akulturasi, dan sinkretis merasuk dan punya pengaruh di arab, Persia, India dan
China. Melalui perdagangan itulah Islam masuk ke kawasan Indonesia. Dengan
demikian bangsa Arab, Persia, India dan Cina memiliki andil dalam melancarkan
perkembangan Islam di kawasan Indonesia. Diantara pembawa agama Islam tersebut
adalah :
1.
Gujarat
(India), pedagang Islam dari Gujarat menyebarkan Islam dengan bukti-bukti antar
lain ukiran batu nisan gaya Gujarat dan adat istiadat budaya India Islam.
2.
Persia,
pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antara lain : gelar
“Syaikh” bagi raja-raja di Indonesia, pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syaikh
Siti Jenar) dan pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).
3.
Arab,
pedagang Arab banyak menetap di pantai-pantai kepulauan Indonesia, dengan bukti
antara lain : adanya komunitas Arab dari Oman, Hadramaut, Basrah, dan Bahrein
untuk menyebarkan islam di lingkungan sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka,
munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang
banyak mengenalkan islam.
4.
Cina,
pedagang dan angkatan laut Cina (Ma Huan, Laksamana Cheng Ho/Dampo awan)
mengenalkan Islam di pantai dan pedalaman Jawa dan sumatera, dengan bukti
antara lain Gedung Batu di Semarang (masjid gaya Cina), beberapa makam Cina
muslim dan wali yang keturunan Cina.
Dari
beberapa bangsa yang membawa Islam ke Indonesia pada umumnya menggunakan
pendekatan cultural, sehingga terjadi dialog budaya dan pergaulan sosial yang
penuh dengan toleransi dan saling menghormati.
·
Faktor
– faktor yang mempengaruhi penyebaran agama islam di Indonesia
Secara
umum dapat dikatakan bahwa proses penyebaran Islam di Indonesia berlangsung
secara damai. Hal itu sangat berbeda dengan proses penyebaran Islam ke Eropa
yang berlangsung melalui jalur peperangan. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi penyebaran Islam di Indonesia berlangsung secara damai, di
antaranya;
1.
Masyarakat
Indonesia sangat percaya bahwa ada kekuatan yang mengendalikan alam beserta
seluruh isinya, di luar kekuatan yang ada pada diri manusia.
2.
Para
pedagang sebagai pembawa ajaran Islam ke Indonesia tidak pernah memaksa orang
lain untuk memeluk agama Islam.
3.
Masyarakat
Indonesia sangat mengutamakan kehidupan bermasyarakat yang tenang, tenteram,
dan damai. Islam dapat memberikan pedoman dalam membangun kehidupan
bermasyarakat yang penuh keadilan, tanpa membedakan status, suku, keyakinan,
dan lain sebagainya.
4.
Di
samping itu, masyarakat Indonesia percaya bahwa ada kehidupan yang abadi setelah
manusia meninggal dunia.
5.
Masyarakat
Indonesia adalah masyarakat yang pathernalistik. Artinya, perilaku masyarakat
sangat bergantung pada pimpinannya.
2.
JALUR YANG DILALUI MASUKNYA ISLAM KE
NUSANTARA
Ø Saluran Penyebaran
Agama Islam Di Indonesia
Dalam
penyebaran Islam di Indonesia terdapat beberapa cara atau metode yang
dipergunakan, antara lain yaitu:
1.
Perdagangan
Pada
tahap awal, saluran yang dipergunakan dalam proses islamisasi di Indonesia
adalah perdagangan. Hal ini dapat diketahui melalui adanya kesibukan lalulintas
perdagangan pada abad ke-7 M hingga abad ke-16 M yang melibatkan banyak
bangsa-bangsa di dunia, termasuk bangsa Arab, Persia, India, Cina, dan
sebagainya. Mereka turut ambil bagian dalam perdagangan di negri-negri bagian
Barat, Tenggara, dan Timur Benua Asia. Pada beberapa tempat, para penguasa jawa
yang menjabat sebagai bupati-bupati majapahit yang ditempatkan di pesisir pulau
Jawa banyak yang masuk Islam.
Hubungan
perdagangan ini dimanfaatkan oleh para pedagang muslim sebagai sarana atau
media dakwah. Sebab dalam islam setiap muslim memiliki kewajiban untuk
menyebarkan ajaran islam kepada siapa saja dengan tanpa paksaan. Oleh karena
itu ketika penduduk nusantara banyak yang berinteraksi dengan para pedagang
muslim, dan keterlibatan mereka semakin jauh dalam aktivitas perdagangan,
banyak diantara mereka yang memeluk islam. Karena pada saat itu jalur-jalur
strategis perdagangan internasional hamper sebagian besar dikuasai oleh para
pedagang muslim. Oleh karena itu bila para penguasa local di Indonesia ingin
terlibat jauh dengan perdagangan internasional, maka mereka harus berperan
aktif dalam perdagangan internasional dan harus sering berinteraksi dengan para
pedagang muslim.
2. Perkawinan
Dari
aspek ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial ekonomi yang lebih
baik dari kebanyakan penduduk pribumi. Hal ini menyebabkan para penduduk
pribumi terutama para wanita yang tertarik untuk manjadi istri para saudagar
muslim. Hanya saja ada ketentuan hukum islam, bahwa para wanita yang akan
dinikahi harus di islamkan terlebih dahulu.
3. Pendidikan
Pada
lembaga inilah para ulama memberikan pengajaran keilmuan islam melalui berbagai
pendekatan sampai kemudian kepada para santri yang mempelajari keilmuan islam
mampu menyerap ilmu keagamaan dengan baik. Lembaga pendidikan ini tidak
membedakan status sosial dan kelas, siapa saja yang berkeinginan mempelajari
atau memperdalam islam, diperbolehkan memasuki lembaga ini.
Dengan
cara ini, maka agama islam terus tersebar ke seluruh penjuru nusantara hingga
akhirnya banyak penduduk Indonesia yang menjadi muslim.
4. Tasawuf
Pada
umumnya para pengajar tasawuf adalah guru-guru pengembara dengan suka rela.
Dengan tasawuf, bentuk islam yang diajarkan kepada para penduduk pribumi
mempunyai persamaan dengan alam pemikiran mereka yang sebelumnya memeluk hindu,
sehingga ajaran islam dengan mudah mereka terima.
5. Kesenian
Saluran
islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah wayang. Seperti
diketahui bahwa Sunan Kalijogo adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan
wayang. Dia tidak pernah meminta upah materi akan tetapi Sunan Kalijogo hanya
meminta kepada para penonton untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Selain
wayang, media yang dipergunakan dalam penyebaran islam di Indonesia adalah seni
bangunan, seni pahat atau seni ukir, seni tari, seni music, dan seni sastra.
3.
CARA-CARA MASUKNYA ISLAM KE NUSANTARA
1.
Melalui perdagangan
Para pedagang Islam dari Gujarat, Persia
dan Arab tinggal selama berbulan-bulan di Malaka (lihat artikel Cara penyebaran agama Islam di Malaka) dan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia. Mereka menunggu angin musim yang
baik untuk kembali berlayar. Maka terjadilah interaksi atau pergaualan antara
para pedagang tersebut dengan raja-raja, para bangsawan dan masyarakat
setempat. Kesempatan ini digunakan oleh para pedagang untuk menyebarkan agama
Islam.
2.
Melalui perkawinan
Di antara para pedagang Islam ada yang
menetap di Indonesia. Hingga sekarang di beberapa kota di Indonesia terdapat
kampung Pekojan. Kampung tersebut dahulu merupakan tempat
tinggal para pedagang Gujarat. Koja artinya
pedagang Gujarat.
Sebagian dari para pedagang ini menikah dengan wanita Indonesia. Terutama
putri raja atau bangsawan. Karena pernikahan itulah, maka banyak keluarga raja
atau bangsawan masuk Islam. Kemudian diikuti oleh rakyatnya. Dengan demikian
Islam cepat berkembang.
3.
Melalui pendidikan
Para ulama atau mubaliq mendirikan
pondok-pondok pesantern di beberapa tempat di Indonesia. Di situlah para pemuda
dari berbagai daerah dan berbagai kalangan masyarakat menerima pendidikan agama
Islam. Setelah tamat mereka pun menjadi mubaliq dan mendirikan pondok pesantern
di daerah masing-masing.
4.
Melalui dakwah di kalangan masyarakat
Di kalangan masyarakat Indonesia sendiri
terdapat juru-juru dakwah yang menyebarkan Islam di lingkungannya, antara lain
:
- Dato'ri Bandang menyebarkan agama Islam di daerah Gowa (Sulawesi
Selatan).
- Tua Tanggang Parang menyebarkan Islam di daerah Kutai (Kalimantan Timur).
- Seorang penghulu dari Demak menyebarkan agama Islam di kalangan para
bangsawan Banjar (Kalimantan Selatan).
- Para Wali menyebarkan agama Islam di Jawa. Wali yang terkenal ada 9 wali,
yaitu :
1.
Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
2.
Sunan Ampel (Raden Rahmat)
3.
Sunan Bonang (Makdum Ibrahim)
4.
Sunan Giri (Raden Paku)
5.
Sunan Derajat (Syarifuddin)
6.
Sunan Kalijaga (Jaka Sahid)
7.
Sunan Kudus (Jafar Sodiq)
8.
Sunan Muria (Raden Umar Said)
9.
Sunan Gunung Jati (Faletehan)
Para wali tersebut adalah orang
Indonesia asli, kecuali Sunan Gresik. Mereka memegang beberapa peran di
kalangan masyarakat sebagai :
1.
penyebar agama Islam
2.
pendukung kerajaan-kerajaan Islam
3.
penasihat raja-raja Islam
4.
pengembang kebudayaan daerah yang telah
disesuaikan dengan budaya Islam.
Karena peran mereka itulah, maka para wali sangat terkenal di kalangan
masyarakat.
5.
Menggunakan kesenian yang disesuaikan dengan keadaan
Ketika agama Islam masuk ke Indonesia, kebudayaan
Hindu masih berakar kuat. Para penyebar agama Islam tidak mengubah kesenian
tersebut. Bahkan menggunakan seni budaya Hindu sebagai sarana menyebarkan agama
Islam.
Seni dan
budaya yang digunakan untuk menyebarkan agama Islam adalah sebagai berikut:
1. Seni
wayang kulit
Cerita wayang kulit diambil dari kitab Mahabharata dan Ramayana. Perubahan
diadakan, tetapi sedikit sekali. Misalnya, perubahan nama-nama tokoh-tokoh
pahlawan Islam. Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang sangat mahir
mempertunjukkan kesenian wayang kulit.
2. Seni
tari dan musik gamelan
Pada upacara-upacara keagamaan dipertunjukkan
tari-tarian tradisional. Tarian itu diiringi musik atau gamelan Jawa. Misalnya
gamelan Sekaten pada waktu upacara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
3. Seni
bangunan
Coba anda amati wujud desain masjid-masjid kuno yang
ada di tanah air ini. Misalnya, menara masjid kuno di Kudus, masjid kuno di
dekat tuban, gapuranya mirip Candi Bentar, Masjid Sunan Kalijaga di Demak yang
atapnya bertingkat-tingkat mirip pura Hindu.
Masjid-masjid
tersebut adalah bangunan Islam, tetapi dibangun mirip bangunan Hindu. Memang
para penyebar agama Islam berudaha menyesuaikan bangunan-bangunan Islam dengan
bangunan Hindu. Apakah tujuannya? Agar rakyat tidak mengalami perubahan secara
mendadak. Bila seorang beragama Hindu masuk Islam dan bersembahyang di masjid,
merasa seolah-olah masuk ke sebuah pura.
4. Seni
hias dan seni ukir
Kecuali bentuknya mirip candi, masjid-masjid kuno pun
dihias dengan ukir-ukiran yang mirip ukir-ukiran khas Hindu.
5. Seni
sastra
Kitab-kitab ajaran Islam diterjemahkan dari bahasa
Arab ke dalam bahasa Melayu. Dengan demikian, isinya mudah dipahami oleh
rakyat.
Meskipun
agama Hindu-Budha telah berkembang dan
mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia selama 600 – 700 tahun sebelum kedatangan Islam, namun penyebaran
agama Islam di Nusantara berlangsung dengan lancar, bahkan dengan mudah dapat
diterima oleh masyarakat Indonesia.
Banyak faktor pendukung yang memudahkan
agama Islam diterima oleh masyarakat Indonesia, di antaranya adalah:
a.
Persyaratan
masuk Islam sangat mudah, cukup dengan mengucapkan dua kalimat syahadat
b.
Pelaksanaan
ibadah sederhana dan murah
c.
Agama
Islam tidak mengenal pembagian kasta, sehingga bisa
diterima oleh seluruh lapisan masyarakat
d.
Aturan-aturannya
fleksibel dan tidak memaksa
e.
Penyebarannya
dilakukan secara damai
g.
Masuk
melalui Gujarat, India dan mendapat
pengaruh Hindu & tasawuf sehingga pemahamannya mudah
h.
Para
penyebar Islam menunjukkan sikap teladan serta pandai menyesuaikan diri dalam
masyakarat
i.
Setelah
berdirinya kerajaan Islam di Nusantara, para rajanya berperan aktif dalam
menyebarkan Islam kepada rakyatnya
1.
Kerajaan
Samudera Pasai
Pedagang
Persia, Gujarat, dan Arab pada awal abad ke-12 membawa ajaran Islam aliran
Syiah ke pantai Timur Sumatera, terutama di negera Perlak dan Pasai. Saat itu
aliran Syiah berkembang di Persia dan Hindustan apalagi Dinasti Fatimiah
sebagai penganut Islam aliran Syiah sedang berkuasa di Mesir. Mereka berdagang
dan menetap di muara Sungai Perlak dan muara Sungai Pasai mendirikan sebuah
kesultanan. Dinasti Fatimiah runtuh tahun 1268 dan digantikan Dinasti Mamluk
yang beraliran Syafi’i,
mereka menumpas orang-orang Syiah di Mesir, begitu pula di pantai Timur
Sumatera. Utusan Mamluk yang bernama Syekh
Ismail mengangkat Marah Silu menjadi sultan di Pasai, dengan
gelar Sultan Malikul Saleh.
Marah Silu yang semula menganut aliran Syiah berubah menjadi aliran Syafi’i.
Sultan Malikul Saleh digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Malikul Zahir, sedangkan
putra keduanya yang bernama Sultan
Malikul Mansur memisahkan diri dan kembali menganut aliran
Syiah. Saat Majapahit melakukan perluasan imperium ke seluruh Nusantara, Pasai
berada di bawah kekuasaan Majapahit.
Berikut
ini adalah urutan para raja yang memerintah di Samudera Pasai, yakni:
a)
Sultan
Malik as Saleh (Malikul Saleh).
b)
Sultan
Malikul Zahir, meninggal tahun 1326.
c)
Sultan
Muhammad, wafat tahun 1354.
d)
Sultan
Ahmad Malikul Zahir atau Al Malik Jamaluddin, meninggal tahun 1383.
e)
Sultan
Zainal Abidin, meninggal tahun 1405.
f)
Sultanah
Bahiah (puteri Zainal Abidin), sultan ini meninggal pada tahun 1428.
Adanya Samudera Pasai ini
diperkuat oleh catatan Ibnu
Batutah, sejarawan dari Maroko. Kronik dari orang-orang Cina
pun membuktikan hal ini. Menurut Ibnu Batutah, Samudera Pasai merupakan pusat
studi Islam. Ia berkunjung ke kerajaan ini pada tahun 1345-1346. Ibnu Batutah
menyebutnya sebagai “Sumutrah”,
ejaannya untuk nama Samudera, yang kemudian menjadi Sumatera.
Ketika singgah di pelabuhan Pasai,
Batutah dijemput oleh laksamana muda dari Pasai bernama Bohruz. Lalu laksmana
tersebut memberitakan kedatangan Batutah kepada Raja. Ia diundang ke Istana dan
bertemu dengan Sultan Muhammad, cucu Malik as-Saleh. Batutah singgah sebentar
di Samudera Pasai dari Delhi, India, untuk melanjutkan pelayarannya ke Cina.
Sultan Pasai ini diberitakan melakukan hubungan dengan Sultan Mahmud di Delhi
dan Kesultanan Usmani Ottoman. Diberitakan pula, bahwa terdapat pegawai yang
berasal dari Isfahan (Kerajaan Safawi) yang mengabdi di istana Pasai. Oleh
karena itu, karya sastra dari Persia begitu populer di Samudera Pasai ini.
Untuk selanjutnya, bentuk sastra Persia ini berpengaruh terhadap bentuk
kesusastraan Melayu kemudian hari. Berdasarkan catatan Batutah, Islam telah ada
di Samudera Pasai sejak seabad yang lalu, jadi sekitar abad ke-12 M. Raja dan
rakyat Samudera Pasai mengikuti Mazhab Syafei. Setelah setahun di Pasai,
Batutah segera melanjutkan pelayarannya ke Cina, dan kembali ke Samudera Pasai
lagi pada tahun 1347.
Bukti lain dari keberadaan Pasai
adalah ditemukannya mata uang dirham sebagai alat-tukar dagang. Pada mata uang
ini tertulis nama para sultan yang memerintah Kerajaan. Nama-nama sultan
(memerintah dari abad ke-14 hingga 15) yang tercetak pada mata uang tersebut di
antaranya: Sultan Alauddin, Mansur Malik Zahir, Abu Zaid Malik Zahir, Muhammad
Malik Zahir, Ahmad Malik Zahir, dan Abdullah Malik Zahir. Pada abad ke-16,
bangsa Portugis memasuki perairan Selat Malaka dan berhasil menguasai Samudera
Pasai pada 1521 hingga tahun 1541. Selanjutnya wilayah Samudera Pasai menjadi
kekuasaan Kerajaan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam. Waktu itu yang
menjadi raja di Aceh adalah Sultan Ali Mughayat.
2.
Kerajaan
Aceh
Kerajaan
Aceh didirikan Sultan
Ali Mughayat Syah pada tahun 1530 setelah melepaskan diri dari
kekuasaan Kerajaan Pidie. Tahun 1564 Kerajaan Aceh di bawah pimpinan Sultan Alaudin al-Kahar (1537-1568).
Sultan Alaudin al-Kahar menyerang kerajaan Johor dan berhasil menangkap Sultan
Johor, namun kerajaan Johor tetap berdiri dan menentang Aceh. Pada masa
kerajaan Aceh dipimpin oleh Alaudin
Riayat Syah datang pasukan Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman untuk meminta
ijin berdagang di Aceh.
Penggantinya
adalah Sultan Ali Riayat dengan
panggilan Sultan
Muda, ia berkuasa dari tahun 1604-1607. Pada masa inilah,
Portugis melakukan penyerangan karena ingin melakukan monopoli perdagangan di
Aceh, tapi usaha ini tidak berhasil. Setelah Sultan Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Muda dari tahun
1607-1636, kerajaan Aceh mengalami kejayaan dalam perdagangan. Banyak terjadi
penaklukan di wilayah yang berdekatan dengan Aceh seperti Deli (1612), Bintan
(1614), Kampar, Pariaman, Minangkabau, Perak, Pahang dan Kedah (1615-1619).
Gejala
kemunduran Kerajaan Aceh muncul saat Sultan Iskandar Muda digantikan oleh Sultan Iskandar Thani (Sultan Iskandar Sani) yang
memerintah tahun 1637-1642. Iskandar Sani adalah menantu Iskandar Muda. Tak
seperti mertuanya, ia lebih mementingkan pembangunan dalam negeri daripada
ekspansi luar negeri. Dalam masa pemerintahannnya yang singkat, empat tahun,
Aceh berada dalam keadaan damai dan sejahtera, hukum syariat Islam ditegakkan,
dan hubungan dengan kerajaan-kerajaan bawahan dilakukan tanpa tekanan politik
ataupun militer.
Pada
masa Iskandar Sani ini, ilmu pengetahuan tentang Islam juga berkembang pesat.
Kemajuan ini didukung oleh kehadiran Nuruddin
ar-Raniri, seorang pemimpin tarekat dari Gujarat, India.
Nuruddin menjalin hubungan yang erat dengan Sultan Iskandar Sani. Maka dari
itu, ia kemudian diangkat menjadi mufti (penasehat) Sultan. Pada masa ini
terjadi pertikaian antara golongan bangsawan (Teuku) dengan golongan agama
(Teungku).
Seusai
Iskandar Sani, yang memerintah Aceh berikutnya adalah empat orang sultanah (sultan
perempuan) berturut-turut. Sultanah yang pertama adalah Safiatuddin Tajul Alam (1641-1675),
janda Iskandar Sani. Kemudian berturut-turut adalah Sri Ratu Naqiyatuddin Nurul Alam,
Inayat Syah,
dan Kamalat Syah.
Pada masa Sultanah Kamalat Syah ini turun fatwa dari Mekah yang melarang Aceh
dipimpin oleh kaum wanita. Pada 1699 pemerintahan Aceh pun dipegang oleh kaum
pria kembali. Ketika Sultanah Safiatuddin Tajul Alam berkuasa, di Aceh tengah
berkembang Tarekat
Syattariah yang dibawa oleh Abdur Rauf Singkel. Sekembalinya dari Mekah tahun
1662, ia menjalin hubungan dengan Sultanah, dan kemudian menjadi mufti Kerajaan
Aceh. Abdur Rauf Singkel dikenal sebagai penulis. Ia menulis buku tafsir
Al-Quran dalam bahasa Melayu, berjudul Tarjuman
al-Mustafid (Terjemahan
Pemberi Faedah), buku tafsir pertama berbahasa Melayu yang ditulis
di Indonesia. Pada tahun 1816, sultan Aceh yang bernama Saiful Alam bertikai dengan Jawharul Alam Aminuddin.
Kesempatan ini dipergunakan oleh Gubernur Jenderal asal Inggris, Thomas Stanford Raffles yang
ingin menguasai Aceh yang belum pernah ditundukkan oleh Belanda. Ketika itu
pemerintahan Hindia Belanda yang menguasai Indonesia tengah digantikan oleh
pemerintahan Inggris. Pada tanggal 22 April 1818, Raffles yang ketika itu
berkedudukan di Bengkulu, mengadakan perjanjian dagang dengan Aminuddin. Berkat
bantuan pasukan Inggris akhirnya Aminuddin menjadi sultan Aceh pada tahun 1816 menggantikan
Sultan Saiful Alam.
Pada
tahun 1824, pihak Inggris dan Belanda mengadakan perjanjian di London, Inggris.
Traktat London ini berisikan bahwa Inggris dan Belanda tak boleh mengadakan
praktik kolonialisme di Aceh. Namun, pada 1871, berdasarkan keputusan Traktat
Sumatera, Belanda kemudian berhak memperluas wilayah jajahannya ke Aceh.
Dua tahun kemudian, tahun 1873, Belanda menyerbu Kerajaan Aceh. Alasan Belanda
adalah karena Aceh selalu melindungi para pembajak laut. Sejak saat itu, Aceh
terus terlibat peperangan dengan Belanda. Lahirlah pahlawan-pahlawan tangguh
dari Aceh, pria-wanita, di antaranya Teuku
Umar, Cut Nyak
Dien, Panglima
Polim.
Perang
Aceh ini baru berhenti pada tahun 1912 setelah Belanda mengetahui taktik perang
orang-orang Aceh. Runtuhlah Kerajaan Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Mekah,
yang telah berdiri selama tiga abad lebih. Kemenangan Belanda ini berkat
bantuan Dr. Snouck Horgronje, yang sebelumnya menyamar sebagai seorang muslim
di Aceh. Pada tahun 1945 Aceh menjadi bagian dari Republik Indonesia.
KERAJAAN ISLAM DI JAWA
A.Kesultanan Demak
Kerajaan Demak adalah kerajaan Islam
pertama di Pulau Jawa. Kerajaan ini terletak di Jawa bagian tengah, tepatnya di
Kota Demak sekarang, propinsi Jawa Tengah. Kerajaan Demak didirikan oleh Raden
Patah sekitar tahun 1500 Masehi. Wilayah Kerajaan Demak kemudian berkembang
menjadi kerajaan besar karena letaknya yang sangat strategis, yaitu di dekat
pelabuhan dan menghubungkan perdagangan di wilayah timur Nusantara (Maluku dan
Makassar) dengan wilayah barat (Malaka).
Selain itu, mundurnya kejayaan Kerajaan
Majapahit di Jawa Timur juga mendukung kemajuan perkembangan Kerajaan Demak.
Kerajaan Demak merupakan salah satu pusat perkembangan agama Islam di
Indonesia, oleh karena itu wilayah ini banyak dikunjungi oleh berbagai lapisan
masyarakat untuk belajar agama. Kegiatan ekonomi Kerajaan Demak turut maju berkat
mobilitas penduduk antar pulau.
Penyebar agama Islam sekaligus
pendukung berdirinya Kerajaan Demak adalah para wali yang dikenal dengan
sebutan Wali Songo. Dalam menyebarkan agama Islam tersebut para wali ini sering
menggunakan saran kesenian dalam media dakwahnya, sehingga pada jaman Kerajaan
Demak kesenian wayang berkembang dengan sangat pesat. Salah satu kesenian
tersebut adalah wayang kulit. Kesenian Jawa dipadukan dengan budaya Arab
sehingga menghasilkan seni budaya Demak yang unik.
Memadukan Budaya Jawa Dan Islam
Kehidupan sosial masyarakat Demak telah
diatur dengan hukum-hukum yang berlaku dalam ajaran agama Islam. Meski
demikian, peraturan tersebut tidak begitu saja meninggalkan tradisi lama
sehingga muncul sistem kehidupan sosial masyarakat yang telah mendapat pengaruh
agama Islam. Karakter agama Islam yang demokratis dan fleksibel memberikan
kesempatan bagi rakyat Demak untuk mengembangkan pekerjaan mereka.
Pada awalnya, Kerajaan Demak merupakan
daerah kekuasaan Kerajaan Majapahit karena Raden Patah, pendiri Kerajaan Demak,
adalah putra dari Raja Brawijaya V dari Majapahit. Setelah Raden Patah wafat,
di digantikan oleh Pati Unus yang dikenal dengan sebutan Pangeran Sabrang Lor.
Pengganti Pati Unus adalah Sultan Trenggono. Silsilah penguasa Kerajaan Demak
bisa kita pelajari melalui makam keluarga kerajaan yang berada di kompleks
Masjid Demak.
Sultan Trenggono adalah raja terbesar
yang pernah memerintah Kerajaan Demak. Pada masa pemerintahannya, wilayah Demak
meliputi seluruh Pulau Jawa, Sumatera bagian Selatan, Kalimantan (Kotawaringin
dan Banjar) serta Selat Malaka. Setelah Sultan Trenggono wafat pada tahun 1546
dalam suatu pertempuran di wilayah Pasuruan, Kerajaan Demak mengalami
kemunduran. Akhirnya, menantu Sultan Trenggono yang bernama Joko Tingkir
berhasil menduduki tahta kerajaan dan memindahkan pusat kerajaan dari Demak ke
Pajang
B. KERAJAAN PAJANG
Berdirinya
Kerajaan Pajang tidak lepas dari runtuhnya Kerajaan Demak pada tahun 1568. Pada
mulanya, Arya Penangsang yang menguasai Demak berhasil dikalahkan oleh Jaka
Tingkir. Oleh Jaka Tingkir, pusat Kerajaan Demak dipindahkan ke Pajang, sebelah
barat kota Solo (sekarang).
Sejak saat itu,
berakhirlah Kerajaan Demak dan berdirilah Kerajaan Pajang. Adapun Demak pada
saat itu, dijadikan wilayah kadipaten yang diserahkan kepada Arya Pangiri
(putra Sunan Prawoto).
Pada waktu
Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) memerintah Kerajaan Pajang, Ki Ageng Pemanahan
diangkat menjadi bupati di Mataram sebagai balas jasa atas bantuannya
mengalahkan Arya Penangsang. Setelah Ki Ageng Pemanahan wafat, jabatan bupati
di Mataram diberikan kepada Sutawijaya, putra angkat Ki Ageng Pemanahan (lihat
Sejarah Kerajaan Mataram).
Sepeninggal
Sultan Hadiwijaya pada tahun 1582, takhta Pajang menjadi rebutan antara
Pangeran Benawa (putra Hadiwijaya) dan Arya Pangiri (menantu Hadiwijaya). Arya
Pangiri merasa tidak puas dengan hanya menjabat sebagai adipati di Demak.
Pangeran Benawa disingkirkan dan hanya dijadikan adipati di Jipang. Selama
berkuasa, (1582 – 1586), Arya Pangiri banyak melakukan tindakan yang meresahkan
rakyat, sehingga menimbulkan berbagai perlawanan.
Kesempatan ini
dimanfaatkan oleh Pangeran Benawa untuk menghimpun kekuatan dan merebut kembali
takhta Pajang. Dalam hal ini, Pangeran Benawa bekerja sama dengan Sutawijaya
(Mataram). Akhirnya, Arya Pangiri dapat dikalahkan dan disuruh kembali ke
Demak.
Setelah Pajang
kembali ke tangannya, Pangeran Benawa justru menyerahkan kekuasaan Pajang
kepada Sutawijaya. Hal ini dilakukannya karena Pangeran Benawa merasa tidak
mampu memimpin Pajang yang begitu luas. Sutawijaya kemudian memindahkan pusat
pemerintahan dari Pajang ke Mataram (1586). Sejak saat itu, berdirilah Kerajaan
Mataram dengan Sutawijaya sebagai rajanya. Adapun Pajang dijadikan kadipaten
dan Pangeran Benawa sebagai adipatinya.
Berbeda dengan kerajaan-kerajaan Islam
lainnya di Indonesia yang bersifat maritim, kerajaan Mataram bersifat agraris.
Kerajaan yang beribu kota di pedalaman Jawa ini banyak mendapat pengaruh
kebudayaan Jawa Hindu baik pada lingkungan keluarga raja maupun pada golomngan
rakyat jelata. Pemerintahan kerajaan ini ditandai dengan perebutan tahta dan
perselisihan antaranggota keluarga yang sering dicampuri oleh Belanda.
Kebijaksanaan politik pendahulunya sering tidak diteruskan oleh
pengganti-penggantinya. Walaupun demikian, kerajaan Mataram merupakan
pengembang kebudayaan Jawa yang berpusat di lingkungan keraton Mataram.
Kebudayaan tersebut merupakan perpaduan antara kebudayaan Indonesia lama,
Hindu-Budha, dan Islam.
Banyak versi mengenai masa awal berdirinya
kerajaan Mataram berdasarkan mitos dan legenda. Pada umumnya versi-versi
tersebut mengaitkannya dengan kerajaan-kerajaan terdahulu, seperti Demak dan
Pajang. Menurut salah satu versi, setelah Demak mengalami kemunduran,
ibukotanya dipindahkan ke Pajang dan mulailah pemerintahan Pajang sebagai
kerajaan. Kerajaan ini terus mengadakan ekspansi ke Jawa Timur dan juga
terlibat konflik keluarga dengan Arya Penangsang dari Kadipaten Jipang Panolan.
Setelah berhasil menaklukkan Aryo Penangsang, Sultan Hadiwijaya (1550-1582),
raja Pajang memberikan hadiah kepada 2 orang yang dianggap berjasa dalam
penaklukan itu, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Penjawi. Ki Ageng Pemanahan
memperoleh tanah di Hutan Mentaok dan Ki Penjawi memperoleh tanah di Pati.
Pemanahan berhasil membangun hutan
Mentaok itu menjadi desa yang makmur, bahkan lama-kelamaan menjadi kerajaan
kecil yang siap bersaing dengan Pajang sebagai atasannya. Setelah Pemanahan
meninggal pada tahun 1575 ia digantikan putranya, Danang Sutawijaya, yang juga sering
disebut Pangeran Ngabehi Loring Pasar. Sutawijaya kemudian berhasil memberontak
pada Pajang. Setelah Sultan Hadiwijaya wafat (1582) Sutawijaya mengangkat diri
sebagai raja Mataram dengan gelar Panembahan Senapati. Pajang kemudian
dijadikan salah satu wilayah bagian daari Mataram yang beribukota di Kotagede.
Senapati bertahta sampai wafatnya pada tahun 1601.
Selama pemerintahannya boleh dikatakan
terus-menerus berperang menundukkan bupati-bupati daerah. Kasultanan Demak
menyerah, Panaraga, Pasuruan, Kediri, Surabaya, berturut-turut direbut. Cirebon
pun berada di bawah pengaruhnya. Panembahan Senapati dalam babad dipuji sebagai
pembangun Mataram.
Senapati digantikan oleh putranya, Mas
Jolang, yang bertahta tahun 1601-1613. Maas Jolang lebih dikenal dengan sebutan
Panembahan Seda Krapyak. Pada masa pemerintahannya, dibangun taman Danalaya di
sebelah barat kraton. Panembahan Seda Krapyak hanya memerintah selama 12 tahun
Ia meninggal ketika sedang berburu di Hutan Krapyak.
Selanjutnya bertahtalah Mas Rangsang,
yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah pemerintahannya (tahun
1613-1645) Mataram mengalami masa kejayaan. Ibukota kerajaan Kotagede
dipindahkan ke Kraton Plered. Sultan Agung merupakan raja yang menyadari
pentingnya kesatuan di seluruh tanah Jawa. Daerah pesisir seperti Surabaya dan
Madura ditaklukkan supaya kelak tidak membahayakan kedudukan Mataram. Ia pun
merupakan penguasa lokal pertama yang secara besar-besaran dan teratur
mengadakan peperangan dengan Belanda yang hadir lewat kongsi dagang VOC
(Vereenigde Oost Indische Compagnie). Kekuasaan Mataram pada waktu itu meliputi
hampir seluruh Jawa, dari Pasuruan sampai Cirebon. Sementara itu VOC telah
menguasai beberapa wilayah seperti di Batavia dan di Indonesia Bagian Timur.
Di samping dalam bidang politik dan
militer, Sultan Agung juga mencurahkan perhatiannya pada bidang ekonomi dan
kebudayaan. Upayanya antara lain memindahkan penduduk Jawa Tengah ke Kerawang,
Jawa Barat, di mana terdapat sawah dan ladang yang luas serta subur. Sultan Agung
juga berusaha menyesuaikan unsur-unsur kebudayaan Indonesia asli dengan Hindu
dan Islam. Misalnya Garebeg disesuaikan dengan hari raya Idul Fitri dan hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejak itu dikenal Garebeg Puasa dan Garebeg Mulud.
Pembuatan tahun Saka dan kitab filsafat Sastra Gendhing merupakan karya Sultan
Agung yang lainnya.
Sultan Agung meninggal pada tahun 1645
dengan meninggalkan Mataram dalam keadaan yang kokoh, aman, dan makmur. Ia
diganti oleh putranya yang bergelar Amangkurat I. Amangkurat I tidak mewarisi
sifat-sifat ayahnya. Pemerintahannya yang berlangsung tahun 1645-1676 diwarnai
dengasn banyak pembunuhan/kekejaman. Pada masa pemerintahannya ibukota kerajaan
Mataram dipindahkan ke Kerta.
Pada tahun 1674 pecahlah Perang
Trunajaya yang didukung para ulama dan bangsawan, bahkan termasuk putra mahkota
sendiri. Ibukota Kerta jatuh dan Amangkurat I (bersama putra mahkota yang
akhirnya berbalik memihak ayahnya) melarikan diri untuk mencari bantuan VOC.
Akan tetapi sampai di Tegalarum, (dekat Tegal, Jawa Tengah) Amangkurat I jatuh
sakit dan akhirnya wafat.
Ia digantikan oleh putra mahkota yang
bergelar Amangkurat II atau dikenal juga dengan sebutan Sunan Amral. Sunan
Amangkurat II bertahta pada tahun 1677-1703. Ia sangat tunduk kepada VOC demi
mempertahankan tahtanya. Pada akhirnya Trunajaya berhasil dibunuh oleh
Amangkurat II dengan bantuan VOC, dan sebagai konpensasinya VOC menghendaki
perjanjian yang berisi: Mataram harus menggadaikan pelabuhan Semarang dan
Mataram harus mengganti kerugian akibat perang.
Oleh karena Kraton Kerta telah rusak,
ia memindahkan kratonnya ke Kartasura (1681). Kraton dilindungi oleh benteng
tentara VOC. Dalam masa ini Amangkurat II berhasil menyelesaikan persoalan
Pangeran Puger (adik Amangkurat II yang kelak dinobatkan menjadi Paku Buwana I
oleh para pengikutnya). Namun karena tuntutan VOC kepadanya untuk membayar
ganti rugi biaya dalam perang Trunajaya, Mataram lantas mengalami kesulitan
keuangan. Dalam kesulitan itu ia berusaha ingkar kepada VOC dengan cara
mendukung Surapati yang menjadi musuh dan buron VOC.
Hubungan Amangkurat II dengan VOC
menjadi tegang dan semakin memuncak setelah Amangkurat II mangkat (1703) dan
digantikan oleh putranya, Sunan Mas (Amangkurat III). Ia juga menentang VOC.
Pihak VOC yang mengetahui rasa permusuhan yang ditunjukkan raja baru tersebut,
maka VOC tidak setuju dengan penobatannya. Pihak VOC lantas mengakui Pangeran
Puger sebagai raja Mataram dengan gelar Paku Buwana I. Hal ini menyebabkan
terjadinya perang saudara atau dikenal dengan sebutan Perang Perebutan Mahkota
I (1704-1708). Akhirnya Amangkurat III menyerah dan ia dibuang ke Sailan oleh
VOC. Namun Paku Buwana I harus membayar ongkos perang dengan menyerahkan
Priangan, Cirebon, dan Madura bagian timur kepada VOC.
Paku Buwana I meninggal tahun 1719 dan
digantikan oleh Amangkurat IV (1719-1727) atau dikenal dengan sebutan Sunan
Prabu , dalam pemerintahannya dipenuhi dengan pemberontakan para bangsawan yang
menentangnya, dan seperti biasa VOC turut andil pada konflik ini, sehinggga
konflik membesar dan terjadilah Perang Perebutan Mahkota II (1719-1723). VOC
berpihak pada Sunan Prabu sehingga para pemberontak berhasil ditaklukkan dan
dibuang VOC ke Sri Langka dan Afrika Selatan.
Sunan Prabu meninggal tahun 1727 dan
diganti oleh Paku Buwana II (1727-1749). Pada masa pemerintahannya terjadi
pemberontakan China terhadap VOC. Paku Buwana II memihak China dan turut
membantu memnghancurkan benteng VOC di Kartasura. VOC yang mendapat bantuan
Panembahan Cakraningrat dari Madura berhasil menaklukan pemberontak China. Hal
ini membuat Paku Buwana II merasa ketakutan dan berganti berpihak kepada VOC.
Hal ini menyebabkan timbulnya pemberontakan Raden Mas Garendi yang bersama
pemberontak China menggempur kraton, hingga Paku Buwana II melarikan diri ke Panaraga.
Dengan bantuan VOC kraton dapat direbut kembali (1743) tetapi kraton telah
porak poranda yang memaksanya untuk memindahkan kraton ke Surakarta (1744).
Hubungan manis Paku Buwana II dengan
VOC menyebabkan rasa tidak suka golongan bangsawan. Dengan dipimpin Raden Mas
Said terjadilah pemberontakan terhadap raja. Paku Buwana II menugaskan adiknya,
Pangeran Mangkubumi, untuk mengenyahkan kaum pemberontak dengan janji akan
memberikan hadiah tanah di Sukowati (Sragen sekarang). Usaha Mangkubumi
berhasil. Tetapi Paku Buwana II mengingkari janjinya, sehingga Mangkubumi
berdamai dengan Raden Mas Said dan melakukan pemberontakan bersama-sama.
Mulailah terjadi Perang Perebutan Mahkota III (1747-1755).
Paku Buwana II dan VOC tak mampu
menghadapi 2 bangsawan yang didukung rakyat tersebut, bahkan akhirnya Paku
Buwana II jatuh sakit dan wafat (1749). Namun menurut pengakuan Hogendorf,
Wakil VOC Semarang saat sakratul maut Paku Buwana II menyerahkan tahtanya
kepada VOC. Sejak saat itulah VOC merasa berdaulat atas Mataram. Atas inisiatif
VOC, putra mahkota dinobatkan menjadi Paku Buwana III (1749).
Pengangkatan Paku Buwana III tidak
menyurutkan pemberontakan, bahkan wilayah yang dikuasai Mangkubumi telah
mencapai Yogya, Bagelen, dan Pekalongan. Namun justru saat itu terjadi
perpecahan anatara Mangkubumi dan Raden Mas Said. Hal ini menyebabkan VOC
berada di atas angin. VOC lalu mengutus seorang Arab dari Batavia (utusan itu
diakukan VOC dari Tanah Suci) untuk mengajak Mangkubumi berdamai.
Ajakan itu diterima Mangkubumi dan terjadilah
apa yang sering disebut sebagai Palihan Nagari atau Perjanjian Giyanti (1755).
Isi perjanjian tersebut adalah: Mataram dibagi menjadi dua. Bagian barat
dibagikan kepada Pangeran Mangkubumi yang diijinkan memakai gelar Hamengku
Buwana I dan mendirikan kraton di Yogyakarta. Sedangkan bagian timur diberikan
kepada Paku Buwana III.
Mulai saat itulah Mataram dibagi dua,
yaitu Kasultanan Yogyakarta dengan raja Sri Sultan Hamengku Buwana I dan
Kasunanan Surakarta dengan raja Sri Susuhunan Paku Buwana III
KERAJAAN BANTEN
Pusat Kerajaan Banten terletak
di Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Kerajaan Banten dikenal sebagai pusat
kerajaan islam di daerah barat Pulau Jawa.
Pada awalnya, daerah Banten
berada di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Tetapi ketika Kerajaan Demak mulai
surut dengan dipindahnya pusat kerajaan ke Pajang, daerah Banten dan daerah
Cirebon melepaskan diri dari Demak. Sejak saat itu, Banten menjadi sebuah
kerajaan Islam yang berdaulat penuh. Raja Banten yang pertama adalah putra
Fatahillah, yaitu Hasanuddin. Sedangkan, Cirebon diserahkan kepada putra
Fatahillah lainnya, yakni Pangeran Pasarean.
Ketika Sultan Hasanuddin
berkuasa, Banten menjadi pelabuhan internasional. Para pedagang dari berbagai
Negara, diantaranya dari Persia, Gujarat, Cina, dan Portugis berdatangan ke
Banten untuk melakukan kegiatan perdagangan. Para pedagang tersebut membeli
hasil utama Banten, yaitu lada dan sebaliknya menjual barang dagangannya di
Pelabuhan Banten.
Sejak tahun 1540 sampai dengan
tahun 1580, kerajaan Banten diperintah oleh Putra Sultan Hasanuddin, yakni
Syekh Maulana Yusuf. Pada tahun 1579, Syekh Maulana Yusuf berhasil menaklukkan
Kerajaan Pajajaran. Kerajaan ini adalah kerajaan hindu yang terakhir di Jawa
Barat. Dalam suatu pertempuran, Raja Pajajaran yang bernama Prabu Sedah tewas
oleh pasukan Syekh Maulana Yusuf.
Pada tahun 1580, Syekh Maulana
Yusuf wafat dan kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama Maulana
Muhammad. Maulana Muhammad mulai menduduki takhta ketika masih berusia 9 tahun.
Karena belum dewasa, pemerintahan dijalankan oleh Mangkubumi Jaya Negara. Pada
tahun 1586, ketika terjadi pertempuran melawan Kesultanan Palembang, Maulana
Muhammad gugur.
Penguasa Banten berikutnya
adalah Pangeran Ratu yang baru berusia 5 bulan. Sambil menunggu Pangeran Ratu
dewasa, pemerintahan dijalankan oleh Mangkubumi Ranamanggala. Pangeran Ratu
yang bergelar Kanjeng Ratu Banten, berkuasa di Banten dari tahun 1596 sampai
tahun 1651. Pangeran Ratu mendapat gelar Abu Mafakir Mahmud Abdul Kadir. Gelar
ini diperoleh dari penguasa Makkah. Sejak saat itu, raja-raja di Banten memakai
gelar dalam bahasa Arab.
Raja Banten ke-5 adalah Sultan
Abulfattah dan lebih dikenal sebagai Sultan Ageng Tirtayasa. Ia adalah putra
Abu Mafakir Mahmud Abdul Kadir. Ia memerintah dari tahun 1651 hingga 1682.
Ketika Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa, Kerajaan Bannten mencapai masa
kejayaannya. Tetapi setelah Sultan Ageng Tirtayasa wafat, Kerajaan Banten mulai
mengalami kemunduran.
Peninggalan Kerajaan Banten yang
sampai saat ini masih terawat baik antara lain sebagai berikut :
Ø Masjid
Banten dengan ketinggian menara mencapai 30 m. Masjid ini dibangun oleh Sultan
Maulana Yusuf tahun 1566 M.
Ø Keraton
Surosowan, dalam bentuk benteng dan kanal-kanal. Bagian keraton ini yang masih
bisa dilihat adalah Loro Denok sebagai tempat untuk menyimpan harta pusaka
sultan yang berada di bawah tanah.
Ø Benteng
Speelwicjk. Pada awalnya benteng ini adalah benteng Kasultanan Banten. Setelah
ditata dan dibangun oleh Belanda namanya menjadi Speelwicjk.
Ø Meriam
Kuno Ki Amuk. Sebuah meriam kuno yang bentuknya sangat besar. Terbuat dari
perunggu dan bertuliskan huruf Arab. Meriam ini terletak di Alun-Alun Masjid
Agung Banten.
Ø Pelabuhan
Karang Hantu yang terletak di Teluk Banten. Pada abad ke-16 pelabuhan ini
menjadi pusat perdagangan antara Sultan Banten dengan pedagang-pedagang asing.
KERAJAAN
CIREBON
Kerajaan Cirebon didirikan oleh
Syarif Hidayatulah yang dikenal sebagai Sunan Gunung Jati. Sejak berdiri,
Cirebon mengalami kemajuan pesat. Wilayah kekuasaannya makin luas. Bandar
Cirebon pun berubah menjadi pelabuhan yang ramai. Kota Cirebon menjadi sebuah
kota yang teratur, jalan-jalannya lebar, rapi, dan bersih.
Hubungan antara Kerajaan Cirebon
dan Mataram sangat baik. Mataram menghormati Kerajaan Cirebon sebagai kerajaan
yang didirikan oleh seorang wali. Sejak VOC datang, Kerajaan Cirebon mengalami
banyak kesulitan.
Pada tahun 1679, Kerajaan
Cirebon pecah menjadi 2, yaitu Kasunanan dan Kasepuhan. Kasunanan pecah lagi
menjadi Kanoman dan Kacirebonan.
KERAJAAN
TERNATE
o
Kerajaan Ternate merupakan Kerajaan
Islam yang terletak di Pulau Ternate, sebelah utara Pulau Tidore, dan di
sebelah barat Pulau Halmahera. Tepatnya di Kota Sampau, Maluku Utara.
o
Tahukah kamu tentang Provinsi Maluku?
Maluku adalah provinsi dengan jumlah pulau terbanyak dibandingkan dengan
provinsi lain di Indonesia. Maluku terletak di wilayah Indonesia Timur,
berdekatan dengan Provinsi Irian Jaya (Papua). Di provinsi ini, pada zaman
dahulu terdapat dua buah kerajaan islam yaitu Ternate dan Tidore. Ketika
terjadi perselisihan dengan Kerajaan Tidore, Kerajaan Ternate mendapat bantuan
dari Portugis. Tetapi kemudian, di bawah pimpinan Sultan Baabullah, rakyat
Ternate berperang melawan Portugis.
o
Dahulu, Kepulauan Maluku terkenal
sebagai daerah pengahasil rempah-rempah (terutama cengkeh dan pala) yang
terbesar di dunia. Para pedagang datang dari berbagai daerah untuk membeli
rempah-rempah di Maluku. Para pedagang ini termasuk pedagang dan mubalig dari
Jawa Timur yang datang pada pertengahan abad ke-15. Selain berdagang, mereka
juga bermasksud menyebarkan agama islam. Lambat laun agama islam tersebar di
Maluku.
o
Sultan pertama dari Kerajaan Ternate
(1486-1500) bernama Sultan Zaenal Abidin. Kemudian Raja Bacan dan Raja Jaijolo
juga memeluk agama islam. Pada tahun 1535-1570, Sultan Haerun menjadi raja di
Kerajaan Ternate. Sultan Haerun berhasil menguasai sebagian besar Kepulauan
Maluku dan Sulawesi Tengah. Kekuasaannya meliputi Halmahera, Bacan, Obi, Pulai
Sula dan Gorontalo.
o
Portugis ingin menguasai Ternate.
Portugis mencoba menekan dan menindas rakyat Ternate. Bahkan Sultan Haerun,
Raja Ternate, dibunuh oleh Portugis. Peristiwa ini mwmbuat rakyat Ternate marah
dan menagangkat senjata untuk melawan Portugis yang juga dianggap sebagai
penjajah Ternate. Perlawanan terhadap Portugis ini dipimpin oleh Sultan
Baabullah, putra Sultan Haerun. Dalam pertempuran itu, rakyat Ternate berhasil
memukul mundur Portugis dari Ternate pada tahun 1575.
o
Peninggalan-peninggalan Kerajaan
Ternate adalah :
v Istana
Sultan Ternate yang berdiri pada awal abad ke-18
v Benteng
Kerajaan Ternate yang dilengkapi meriam
v Masjid
di Ternate yang merupakan peninggalan raja di Ternate
v Bekas
keratin peninggalan Kerajaan Ternate
v Benda/barang
peninggalan raja-raja Ternate
KERAJAAN
TIDORE
Sama seperti
Ternate, Kerajaan Tidore adalah kerajaan Islam yang berada di Kepulauan Maluku.
Kerajaan ini terletak di sebelah selatan Pulau Ternate atau di sebelah barat
Pulau Halmahera. Raja-raja yang terkenal dari Kerajaan Tidore adalah Sultan
Mansur dan Sultan Nuku. Sultan Nuku berhasil meluaskan wilayah kekuasaannya
sampai ke Halmahera dan Irian Jaya (Papua).
Di antara Ternate dan Tidore
terjadi persaingan untuk mempengaruhi daerah-daerah di sekitar Kepulauan
Maluku. Daerah-daerah yang berhasil dipengaruhi oleh masing-masing kerajaan
tadi kemudian membentuk persekutuan. Wilayah Maluku terpecah menjadi 2
persekutuan, yaitu :
a.
Uli Siwa (persekutuan Sembilan)
dipimpin oleh Kerajaan Tidore. Wilayahnya meliputi Jailolo (Halmahera) dan
semalin lama meluas ke pulau-pulau kecil yang tersebar sampai di wilayah Irian
Jaya (Papua).
b.
Uli Lima (persekutuan lima) dipimpin
oleh Kerajaan Ternate. Wilayahnya meliputi Pulau Bacan, Obi, Seram dan Ambon.
Persaingan
antara Ternate dan Tidore ini akhirnya menimbulkan perselisihan sampai kemudian
meletuslah peperangan antara kedua kerajaan tersebut. Dalam peperangan ini,
Kerajaan Ternate dibantu oleh Portugis sementara Tidore dibantu oleh Spanyol.
Portugis dan Spanyol sebenarnya bermaksud memperalat kedua kerajaan yang sedang
berselisih itu untuk memonopoli perdagangan di luar negeri.
Pada tahun 1529 dilakukan
perjanjian perdamaian antara Portugis dan Spanyol. Perjanjian ini berlangsung
di Tordesillas. Isi perjanjian Tordesillas adalah :
1.
Maluku menjadi milik Portugis
2.
Fillipina menjadi milik Spanyol
Peninggalan
Kerajaan Tidore :
Benteng-benteng peninggalan Portugis,
Spanyol dan Belanda di Tidore
Peninggalan Kerajaan Tidore di Tidore
Benda-benda bersejarah di Tidore
KERAJAAN GOWA-TALLO
Pusat Kerajaan
Gowa-Tallo terletak di Sombaopu, Makassar, Sulawesi Selatan. Kerajaan ini
merupakan kerajaan kembar yang bersatu. Kedua kerajaan ini biasa disebut
Kerajaan Makassar.
Sejak tahun 1580, Kerajaan
Ternate sudah giat menyiarkan agama Islam ke Makassar. Pada tahun 1605, Raja
Gowa memeluk agama islam. Kerajaan Gowa merupakan Kerajaan Islam yang pertama
di Sulawesi.
Wilayah Makassar sangatlah
strategis sebagai penghubung antara Malaka, Jawa, Maluku dan Gowa yang
berkembang menjadi pusat perdagangan di wilayah Indonesia Timur. Selain itu,
Gowa juga merupakan maritime yang kuat dan memiliki armada kapal perang yang
gagah perkasa dan benteng-benteng yang kokoh.
Wilayah Sulawesi Selatan dihuni
oleh 2 suku bangsa yaitu Suku Makassar dan Bugis. Suku Makassar berpusat di
Gowa dan Tallo, sedangkan Suku Bugis berpusat di Soppeng, Bone, Wajo dan Luwu.
Raja Gowa yang bernama Sultan Alauddin mengajak raja-raja Bone, Soppeng dan
Wajo untuk memeluk agama islam. Pada tahun 1610, Raja Wajo mau menerima dan
memeluk agama islam. Menyusul kemudian Raja Bone yang memeluk agama Islam tahun
1611.
Pada tahun 1638, Sultan Alauddin
wafat. Muhammad Said (1638-1653) kemudian naik tahta untuk menggantikan
ayahnya. Setelah Muhammad Said wafat, Kerajaan Gowa diperintah oleh Sultan
Hasanuddin, putra Sultan Muhammad Said. Pada masa pemerintahan Sultan
Hasanuddin, Kerajaan Gowa mencapai puncak kejayaannya. Sumber kemakmuran rakyat
Gowa adalah dari perdagangan, terutama rempah-rempah. Tetapi kemakmuran rakyat
ini diganggu oleh Belanda yang berusaha untuk memonopoli perdagangan dan
menguasai perairan Nusantara. Sultan Hasanuddin dengan gagah berani berusaha
melawan usaha monopoli Belanda. Kegigihan Sultan Hasanuddin melawan Belanda
membuat orang Belanda menjulukinya De Haan van de Oesten yang berarti “Ayam
Jantan dari Timur”.
Peninggalan Kerajaan Gowa yang
monumental dan sampai sekarang masih terawatt dengan baik adalah :
Istana tua dari kayu yang dijadikan
museum Ballompua. Di istana ini tersimpan senjata dan pakaian kerajaan, juga
mahkota berlapis emas seberat 15,4 kg.
Makam Sultan Hasanuddin
Benteng Ujung Pandang yang merupakan
bangunan bekas Benteng Fort Rotterdam pada zaman penjajahan
Benda-benda bersejarah lain yang ada di
dalam istana Kerajaan Gowa
Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah penting
pantai utara Pulau Jawa, yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan-Tuban di Jawa Timur,
Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat.
Era
Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia,
khususnya di Jawa. Tentu banyak tokoh lain yang juga berperan. Namun peranan
mereka yang sangat besar dalam mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya
terhadap kebudayaan masyarakat secara luas serta dakwah secara langsung,
membuat para Walisongo ini lebih banyak disebut dibanding yang lain.
Ada beberapa pendapat mengenai arti Walisongo.
Pertama adalah wali yang sembilan, yang menandakan jumlah wali yang ada
sembilan, atau sanga dalam bahasa Jawa. Pendapat lain
menyebutkan bahwa kata songo/sanga berasal dari kata tsana
yang dalam bahasa Arab berarti mulia.
Pendapat lainnya lagi menyebut kata sana berasal dari bahasa Jawa, yang berarti tempat.
Nama para Walisongo
Dari nama para Walisongo tersebut, pada
umumnya terdapat sembilan nama yang dikenal sebagai anggota Walisongo yang
paling terkenal, yaitu:
Sunan Gresik (Maulana
Malik Ibrahim

Maulana Malik
Ibrahim
adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia disebut juga
Sunan Gresik, atau Sunan Tandhes, atau Mursyid Akbar Thariqat Wali Songo .
Nasab As-Sayyid Maulana Malik Ibrahim Nasab Maulana Malik Ibrahim menurut
catatan Dari As-Sayyid Bahruddin Ba'alawi Al-Husaini yang kumpulan catatannya
kemudian dibukukan dalam Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait yang terdiri dari
beberapa volume (jilid). Dalam Catatan itu tertulis: As-Sayyid Maulana Malik
Ibrahim bin As-Sayyid Barakat Zainal Alam bin As-Sayyid Husain Jamaluddin bin
As-Sayyid Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid Abdullah bin As-Sayyid Abdul Malik
Azmatkhan bin As-Sayyid Alwi Ammil Faqih bin As-Sayyid Muhammad Shahib Mirbath
bin As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Muhammad bin
As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Ubaidillah bin Al-Imam Ahmad Al-Muhajir bin
Al-Imam Isa bin Al-Imam Muhammad bin Al-Imam Ali Al-Uraidhi bin Al-Imam Ja’far
Shadiq bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir bin Al-Imam Ali Zainal Abidin bin Al-Imam
Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra/Ali bin Abi Thalib, binti Nabi
Muhammad Rasulullah
Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada
paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya
Asmarakandi, mengikuti pengucapan lidah orang Jawa terhadap As-Samarqandy.[2]
Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya Kakek Bantal.
Isteri Maulana Malik Ibrahim
Maulana Malik Ibrahim memiliki, 3
isteri bernama: 1. Siti Fathimah binti Ali Nurul Alam Maulana Israil (Raja
Champa Dinasti Azmatkhan 1), memiliki 2 anak, bernama: Maulana Moqfaroh dan
Syarifah Sarah 2. Siti Maryam binti Syaikh Subakir, memiliki 4 anak, yaitu:
Abdullah, Ibrahim, Abdul Ghafur, dan Ahmad 3. Wan Jamilah binti Ibrahim
Zainuddin Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu: Abbas dan Yusuf.
Selanjutnya Sharifah Sarah binti Maulana Malik Ibrahim dinikahkan dengan Sayyid
Fadhal Ali Murtadha [Sunan Santri/ Raden Santri] dan melahirkan dua putera
yaitu Haji Utsman (Sunan Manyuran) dan Utsman Haji (Sunan Ngudung). Selanjutnya
Sayyid Utsman Haji (Sunan Ngudung) berputera Sayyid Ja’far Shadiq [Sunan
Kudus].
Maulana Malik Ibrahim umumnya dianggap
sebagai wali pertama yang mendakwahkan Islam di Jawa. Ia mengajarkan cara-cara
baru bercocok tanam dan banyak merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan
masyarakat Jawa yang tersisihkan akhir kekuasaan Majapahit. Malik Ibrahim
berusaha menarik hati masyarakat, yang tengah dilanda krisis ekonomi dan perang
saudara. Ia membangun pondokan tempat belajar agama di Leran, Gresik. Pada
tahun 1419, Malik Ibrahim wafat. Makamnya terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur.
Sunan Ampel (Raden
Rahmat)
Sunan Ampel bernama asli Raden
Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad, menurut riwayat ia
adalah putra Ibrahim Zainuddin Al-Akbar dan seorang putri Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti
Raja Champa Terakhir Dari Dinasti Ming. Nasab lengkapnya sebagai berikut: Sunan
Ampel bin Sayyid Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin Sayyid Jamaluddin Al-Husain bin
Sayyid Ahmad Jalaluddin bin Sayyid Abdullah bin Sayyid Abdul Malik Azmatkhan
bin Sayyid Alwi Ammil Faqih bin Sayyid Muhammad Shahib Mirbath bin Sayyid Ali
Khali’ Qasam bin Sayyid Alwi bin Sayyid Muhammad bin Sayyid Alwi bin Sayyid
Ubaidillah bin Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Sayyid Isa bin Sayyid Muhammad bin
Sayyid Ali Al-Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq bin Imam Muhammad Al-Baqir bin
Imam Ali Zainal Abidin bin Imam Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti
Nabi Muhammad Rasulullah. Sunan Ampel umumnya dianggap sebagai sesepuh oleh
para wali lainnya. Pesantrennya bertempat di Ampel Denta, Surabaya, dan merupakan salah
satu pusat penyebaran agama Islam tertua di Jawa. Ia menikah dengan Dewi
Condrowati yang bergelar Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya
Teja dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning. Pernikahan
Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo,
berputera: Sunan Bonang,Siti Syari’ah,Sunan Derajat,Sunan Sedayu,Siti
Muthmainnah dan Siti Hafsah. Pernikahan Sunan Ampel dengan Dewi Karimah binti
Ki Kembang Kuning, berputera: Dewi Murtasiyah,Asyiqah,Raden Husamuddin (Sunan
Lamongan,Raden Zainal Abidin (Sunan Demak),Pangeran Tumapel dan Raden Faqih
(Sunan Ampel 2. Makam Sunan Ampel teletak di dekat Masjid Ampel, Surabaya.
Sunan Bonang (Makhdum
Ibrahim)
Sunan Bonang adalah putra Sunan
Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra
Sunan Ampel dengan Nyai Ageng Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja.
Sunan Bonang banyak berdakwah melalui kesenian untuk menarik penduduk Jawa agar
memeluk agama Islam. Ia dikatakan sebagai penggubah suluk Wijil dan
tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang. Pembaharuannya
pada gamelan Jawa ialah dengan
memasukkan rebab dan bonang, yang sering dihubungkan dengan
namanya. Universitas Leiden menyimpan sebuah
karya sastra bahasa Jawa bernama Het Boek van Bonang atau Buku Bonang.
Menurut G.W.J. Drewes, itu bukan karya Sunan Bonang namun mungkin saja
mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan wafat pada tahun 1525. Ia
dimakamkan di daerah Tuban, Jawa Timur.
Sunan Drajat
Sunan Drajat adalah putra Sunan
Ampel, dan merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Nama asli dari
sunan drajat adalah masih munat. masih munat nantinya terkenal dengan nama
sunan drajat. Nama sewaktu masih kecil adalah Raden Qasim. Sunan drajat
terkenal juga dengan kegiatan sosialnya. Dialah wali yang memelopori penyatuan
anak-anak yatim dan orang sakit. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng
Manila, putri adipati Tuban bernama Arya Teja. Sunan Drajat banyak berdakwah
kepada masyarakat kebanyakan. Ia menekankan kedermawanan, kerja keras, dan
peningkatan kemakmuran masyarakat, sebagai pengamalan dari agama Islam.
Pesantren Sunan Drajat dijalankan secara mandiri sebagai wilayah perdikan,
bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang macapat
Pangkur disebutkan sebagai ciptaannya. Gamelan Singomengkok
peninggalannya terdapat di Musium Daerah Sunan Drajat, Lamongan. Sunan Drajat
diperkirakan wafat pada 1522.
Sunan Kudus
Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman
Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi Ruhil yang bergelar Nyai Anom Manyuran
binti Nyai Ageng Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan
ke-24 dari Nabi Muhammad. Sunan Kudus bin
Sunan Ngudung bin Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin
Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul Malik
Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam
bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin
Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali
Zainal Abidin bin Al-Husain bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra binti Nabi Muhammad
Rasulullah. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam
pemerintahan Kesultanan Demak, yaitu sebagai
panglima perang, penasehat Sultan Demak, Mursyid Thariqah dan hakim peradilan
negara. Ia banyak berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa. Di
antara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang
Panolan. Salah satu peninggalannya yang terkenal ialah Mesjid Menara Kudus, yang
arsitekturnya bergaya campuran Hindu dan Islam. Sunan Kudus diperkirakan wafat
pada tahun 1550.
Sunan Giri
Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah
keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad, merupakan murid
dari Sunan Ampel dan saudara seperguruan dari Sunan Bonang. Ia mendirikan
pemerintahan mandiri di Giri Kedaton, Gresik; yang selanjutnya berperan sebagai
pusat dakwah Islam di wilayah Jawa dan Indonesia timur, bahkan sampai ke
kepulauan Maluku. Salah satu keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri
Prapen, yang menyebarkan agama Islam ke wilayah Lombok dan Bima.
Sunan Kalijaga
Lukisan
Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga adalah putra adipati
Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur atau Sayyid Ahmad bin
Mansur (Syekh Subakir). Ia adalah murid Sunan Bonang. Sunan Kalijaga
menggunakan kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah, antara lain
kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk lir-Ilir dan Gundul-Gundul
Pacul umumnya dianggap sebagai hasil karyanya. Dalam satu riwayat, Sunan
Kalijaga disebutkan menikah dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, menikahi juga
Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar dan Ratu Kano Kediri binti Raja Kediri.
Sunan Muria (Raden
Umar Said)
Sunan Muria atau Raden Umar Said
adalah putra Sunan Kalijaga. Ia adalah putra dari Sunan Kalijaga dari isterinya
yang bernama Dewi Sarah binti Maulana Ishaq. Sunan Muria menikah dengan Dewi
Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan Muria adalah adik ipar dari Sunan
Kudus.
Sunan Gunung Jati
(Syarif Hidayatullah)
Lukisan
Sunan Gunung Jati
Sunan Gunung Jati
atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif Abdullah Umdatuddin putra Ali
Nurul Alam putra Syekh Husain Jamaluddin Akbar. Dari pihak ibu, ia masih
keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara
Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati
mengembangkan Cirebon sebagai pusat dakwah dan pemerintahannya, yang sesudahnya
kemudian menjadi Kesultanan Cirebon. Anaknya yang
bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil
mengembangkan kekuasaan dan menyebarkan agama Islam di Banten, sehingga
kemudian menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten.