bunga mekar

Kamis, 29 Oktober 2015

Jalan-Jalan selama liburan

Saat itu aku sedang duduk di bangku kelas 2 SD. Pada hari itu, hari Selasa, saudara sepupuku yang berasal dari Cipulir, Ciganjur dan Ciledug datang ke Magelang untuk berlibur ke daerah sekitar Magelang dan Yogyakarta. Mereka tiba di Magelang pada pukul 03.00 WIB. Mereka berkata bahwa seharusnya pukul 23.00 mereka tiba di Magelang, namun karena macet di jalan sehingga mereka harus menempuh perjalanan yang lebih lama dari biasanya.
            Pada hari Rabu, mereka memutuskan untuk beristirahat di rumah terlebih dahulu, karena lelah di perjalanan. Keluargaku yang berasal dari Cipulir adalah Budhe Ririn, Pakdhe Syukur, Mas Farel, Mbak Anjra dan Rehan. Mbak Anjra saat itu sedang duduk di bangku kelas 4 SD, sedangkan Rehan duduk di bangku kelas 1 SD, Mas Faril sedang duduk di bangku kelas 2 SMA. Sedangkan keluargaku yang berasal dari Ciganjur adalah Mbah Jampo, Mbah Niti dan Mbak Dinda. Mbak Dinda seperti Mbak Anjra yang sedang duduk di bangku kelas 4 SD. Nah, keluargaku yang berasal dari Ciledug bernama Budhe Yayuk, Om Aziz, Mas Rio dan Saskia. Mas Rio sama seperti Mbak Anjra dan Mbak Dinda sedang duduk di bangku kelas 4 SD, sedangkan Saskia sedang duduk di bangku TK Kecil.
            Pada hari Rabu itu, Budhe Ririn mengajakku untuk ikut pergi ke Candi Borobudur keesokan harinya. Pada keesokan harinya aku bersiap-siap untuk pergi ke Candi Borobudur. Untungnya Budhe Ririn juga mengajak Simbah untuk ikut pergi ke Candi Borobudur sehingga aku tidak sendiri. Pukul 09.00 WIB kami berangkat ke Candi Borobudur. Sesampai di sana, kami langsung naik ke Candi. Tapi Mbah Kuslani, Mbah Maman, Budhe Ririn, Mbah Niti, Mbah Jampo dan Rehan tidak ikut naik ke Candi Borobudur karena lelah. Akhirnya aku bersama Mbak Anjra, Mbak Dinda, Mas Farel, Mas Rio dan Saskia tetap naik ke Candi karena kami ingin berfoto di puncak  Candi Borobudur.
            Kami berjalan menuju loket untuk membeli tiket. Setelah membeli tiket, kemudian kami memasuki Candi Borobudur. Kata penyewa payung di sana, kami harus berjalan sekita 1 km untuk sampai ke Candi Borobudur. Sehingga kami ditawari untuk menyewa payung atau memilih membeli topi. Kami tak menghiraukan mereka karena kami sudah membawa topi. Kami harus naik tangga satu per satu untuk sampai di Candi. Kami selalu berhenti untuk berfoto, setelah sampai di puncak kami turun untuk pulang.
            Sesampai di bawah, kami mencari Budhe Ririn, setelah bertemu dengan beliau, kami segera naik mobil untuk pergi ke Candi Mendut. Setelah sampai di Candi Mendut, kami pergi ke loket untuk membeli tiket. Kami sangat terkejut karena harga tiketnya hanya Rp 2500. Setelah membeli tiket, kami masuk ke Candi Mendut. Di sana ternyata ada 3 patung besar. Kami keluar untuk pulang, karena kami hanya penasaran pada isi Candi Mendut.
            Di luar ternyata orang tua kami sudah menunggu, kami pun dibelikan mie ayam dan es kelapa muda bulat. Awalnya kami berniat untuk pergi ke Sentolo (Jogja Kulon Progo), tapi karena mendengar cerita dari orang lain bahwa Jogja macet, kami memutuskan untuk pergi ke Jogja besok saja. Setelah itu, kami pulang.
            Pada hari Kamis, kami bersiap untuk pergi ke Kolam Renang Wahana Pelangi di Jogja Kulon Progo. Kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 2 jam, kami menjemput saudara kami di Wates terlebih dahulu. Setelah itu, kami berangkat menuju Kolam Renang Wahana Pelangi. Sesampai di sana, kami langsung berganti pakaian renang dan segera menceburkan diri di kolam renang.
            2 jam kemudian, kami memutuskan untuk bilas badan dan mandi. Setelah itu kami pergi ke Sentolo, perjalanannya hanya 30 menit. Sesampai di Sentolo, kami beristirahat terlebih dahulu, sambil menunggu kelapa muda yang sedang dipetik oleh Mbah Momon. Budhe Ririn, Budhe Yayuk dan Mbah Niti mencairkan gula jawa dan memcahkan es batu untuk dibuat Rujak Degan.
            Pada pukul 15.00 kami pergi ke Wates untuk menginap di sana. Sesampai di Wates kami bermain sepeda keliling desa. Kemudian pergi ke Lapangan, di sana sangat ramai, bahkan ada kabar bahwa akan ada konser ST 12 di sana.
            Pada malam harinya, kami pergi ke Malioboro untuk berbelanja. Kami berbelanja baju Joker, sendal, sepatu, bolpoint, daster, tas, dan sebagainya. Kami tertawa dan merasa geli ketika membaca papan di atas sebuah toko yang bertuliskan “Copet Dilarang Masuk”. Memangnya ada copet yang mengaku bahwa dirinya copet?? Haha, kami sampai tertawa terbahak-bahak.
            Pada pukul 22.00 kami pulang ke Wates untuk tidur di sana, karena pada esok harinya kami akan pergi ke Pantai Glagah. Keesokan harinya, tepat pada pukul 09.00 kami pergi ke Pantai Glagah, kami berpamitan pada keluarga yang ada di Wates karena setelah dari Pantai Glagah kami langsung pulang ke Salaman.

            Perjalanan memakan waktu selama 45 menit, sesampai di Pantai Glagah. Sebelumnya, aku bercerita kepada sepupu-sepupuku bahwa aku pernah hampir terseret ombak di Pantai Glagah itu. Awalnya mereka tidak percaya akan hal itu, tapi setelah aku bercerita bagaimana kronologi kejadiannya akhirnya mereka percaya. Setelah itu, kami segera pulang ke Salaman.