bunga mekar

Sabtu, 22 November 2014

manusia harimau

Manusia Harimau adalah sebuah sinetron produksi MD Entertainment yang ditayangkan MNCTV. Sinetron yang mengisahkan tentang karakteristik hewan yang dimiliki setiap manusia dengan penggambaran sikap dan kepribadian yang dimilikinya dalam persaingan hidup.

Arga (Randy Pangalila) adalah cowok culun yang merupakan siswa SMA Bunga Bangsa. Suatu hari setelah ulang tahunnya yang ke-17, ia mendapatkan fenomena yang menakjubkan. Mendadak tubuhnya berubah menjadi cowok macho, jago basket dan lebih menakjubkan lagi, ia berubah menjadi manusia harimau. Arga kini punya kekuatan yang luar biasa karena ia adalah manusia harimau. Awalnya Arga tidak memercayai perubahannya sebagai manusia harimau ini, tapi Bembi (Rayn Wijaya), sahabat karibnya yang culun tapi pintar, selalu mencari informasi di Google untuk mendapatkan informasi tentang keanehan yang dialaminya, hingga Bembi meyakini Arga adalah keturunan manusia harimau.
Arga sering terganggu dengan kehebatan yang ia miliki, karena Arga ketika dalam emosi tertentu sering berubah menjadi manusia harimau, dan nafsu untuk membunuh itu selalu muncul. Seringkali perubahan Arga yang tidak terkontrol ini membuat Arga menjadi kacau, tapi Bembi tidak tinggal diam. Bembi terus mencari informasi dengan di Google untuk mencari cara bagaimana mengendalikan emosi manusia harimau. Ahirnya, Bembi menemukan caranya, yakni dengan mengingat orang yang dicintainya, maka Arga akan bisa mengalihkan emosi manusia harimau. Cara ini cukup membantu Arga lebih tenang. Arga selalu mengingat Citra (Vebby Palwinta) jika emosi tertentu itu muncul dan dirinya akan berubah menjadi manusia harimau.
Arga dan Bembi sangat terkejut mengetahui ternyata Bara (Kevin Kambey), Reno (Elscant Wifesa), dan Bombom (Indra Kharisma) adalah keturunan manusia singa. Mereka ternyata membawa dendam masa lalu, untuk memusnahkan manusia harimau. Sehingga, untuk mendapatkan kekuatan abadi yang tiada tanding, maka Bara bertekad untuk menikahi putri dari keturunan manusia harimau, yaitu Citra. Namun lambat laun, Arga dan Citra semakin dekat. Mereka pun merasakan getaran dalam hatinya untuk saling mencintai. Siswono (Shandy Syarif) mengetahui hal ini, dan juga meyakini Arga adalah manusia harimau. Seketika Siswono ingin memusnahkan Arga, karena Siswono tidak ingin Citra meninggal karena cintanya. Sebab, sesama keturunan manusia harimau tidak boleh saling menikah. Siswono takut jika ia tidak segera memisahkan Citra dan Arga, maka suatu saat nanti mereka akan menikah. Kemudian kematianlah yang akan menjadi kutukannya.

Pemeran

Pemeran Peran Keterangan
Randy Pangalila Arga Laki-laki keturunan manusia harimau
Vebby Palwinta Citra Perempuan yang dicintai Arga yang juga keturunan manusia harimau
Rayn Wijaya Bembi Sahabat Arga yang juga manusia harimau yang diciptakan Arga dan Citra dengan gabungan darah mereka
Akina Fathia Jihan Perempuan yang terkena gigitan serigala dan menjadi manusia serigala
Kevin Kambey Bara Laki-laki keturunan manusia singa
Sarah Watson Naomi Perempuan yang memusuhi Citra dan menyukai Bara
Angbeen Nora Sahabat Naomi yang juga memusuhi Citra dan menyukai Bembi
Shandy Syarif Siswono Ayah Citra yang juga keturunan manusia harimau
Thomas Joseft Haryobimo Ayah Arga yang merupakan salah satu dari Legenda 7 Harimau
Indra Kharisma Bombom Sahabat Bara yang juga keturunan manusia singa
Tommy Kaganangan Topan Manusia singa sekaligus musuh Bara yang memiliki kekuatan hebat
Vitta Mariana Bu Susan Guru yang dicintai Pak Dudung
Irene Librawati Tante Arumi Bibinya Arga
Jonathan Frizzy Pak Galih Guru keturunan manusia harimau yang dulunya membantu Arga dan sekarang mengincar darah Citra
Eman Pak Dudung Guru yang lucu dan kocak
Elscant Wifesa Reno Sahabat Bara yang juga keturunan manusia singa
Margin Winaya Firly Kekasih Reno yang menjadi manusia serigala karena telah digigit oleh manusia serigala dan hanya berpura-pura berteman dengan Citra
Monic Crasivaya Erin Sahabat Citra sekaligus mantan kekasih Bembi


 

        

    

    

    

    

puisi



Ketika kesendirian melanda pada ku.kini ku teringat akan masa lalu
Masa lalu di mana aku dan dia  menjadi kita.
Masa lalu yang kini hanya mengisahkan luka untuk ku dan dia.
Kini ku merindu lagi akan sosok nya.
Kini ku mengingat lagi akan dirinya.
Dirinya yang dulu ku kenal sebagai pengisi hari_hari ku,
Dirinya yang selalu jadi yang utama di hati ku.
Tapi kini posisinya tak lagi ada di hati ku.


Ketakutan ku semakin tak menentu,sejak kepergian mu untuk menjauh kini ku merasa pilu.
Rasa demi rasa,,rindu demi rindu,,serta kata demi kata kini menghiasi hari ku.
Tak lagi ada sosok mu di dekat ku.
Hanya dengan suara mu ku mengobati rasa rindu ku untuk mu.


Kesepian ku tak akan menjadikan ku untuk tak menanti mu
Meski kini kau dan aku terhalang oleh waktu
Tapi penantian ku akan tetap untuk mu.
Sejauh engkau melangkah kini ku semakin akan menunggu.
Meski kini ku harus berteman dengan pilu dan rindu.
Tapi ku yakini kau akan kembali untuk ku.
Kembali untuk membawa bahagia ku bersama mu.
Teringat sewaktu engkau memeluk erat tubuh ku
Dan engkau berkata tunggu aku
Sewaktu itu lah engkau melangkah menjauh dari ku
Menjauh untuk  mendapat kan impian mu dengan Ku
Tak pernah terduga waktu akan secepat itu memisah kan engkau dengan ku
Tapi itu tak jadi masalah bagi ku untuk tetap menanti mu
Cepat lah…cepat untuk kembali bersamaku
Tepis hari..hari ku seperti waktu itu…


Jangan pernah jadikan perpisahan ini untuk kita bersedih
Dengan perpisahan ini lah kita akan mendewasakan diri
Menjadikan kita mengerti akan arti penantian yg bertepi
Meski akan lama penantian ini
Tapi kini ku yakini bahwa kita mampu untuk semua ini
Kasih…tak perlu engkau sesali dengan keadaan ini
Karna ku disini akan tetap menanti…

Di saat kini kau dan aku terhalang oleh waktu,
Banyak kata_kata yg terangkai menjadi sebuah pertanyaan terhadap ku.
Akan kah ku akan tetap menanti mu.??
Menanti kedatangan mu untuk kembali bersama ku.
Menanti untuk mendapat kan bahagia ku bersama mu.
Kerinduan ku terhadap mu kini tak menentu
Semakin ku membendung rasa ku semakin ku merindu
Semakin besar rasa ku untuk tetap menanti mu
Semakin besar pula rasa ku untuk ingin bertemu dengan mu,
memeluk mu…
melepas kan segala rindu ku terhadap mu.

Melanjutkan Cerpen



JEJAK SI KAKI SATU
 
KARYA UNTUNG SULARNO

Minggu pagi, ketika Leon menyapu halaman, ia heran melihat jejak sepatu aneh di halaman rumahnya. Jejak sepatu itu hanya satu, yakni sepatu kanan, tanpa ada jejak sepatu kiri. Leon jadi penasaran ingin mengikuti jejak sepatu itu.
Perlahan ia melangkah mengikuti jejak sepatu yang hanya satu itu sambil berfikir dan mengingat-ingat sesuatu.
“Tidak! Tidak ada orang di kampong ini yang berkaki cacat. Pasti ini jejak orang asing!” seru Leon dalam hati.
Ketika jejak sepatu yang diikutinya semakin jauh, ia menjadi ragu. Apalagi ternyata jejak itu menuju ke rumah tua di ujung jalan, yang sudah lama tidak berpenghuni.
“Jangan-jangan jejak hantu!” seketika bulu kuduk Leon berdiri. Tetapi Leon memang pemberani. Ia tetap bersikeras untuk menyibak teka-teki jejak sepatu aneh itu. Ia membulatkan tekad memasuki pintu gerbang rumah tua itu.
Saat memasuki rumah tua yang memyeramkan itu, ia terkejut mendengar suara tawa orang dari dalam rumah. Jantungnya berdegup kencang. Ia berjingkat dari satu pohon ke pohon lain yang rimbun tidak terawatt. Kemudian merapatkan diri ke dinding, agar tidak terlihat orang di dalam rumah itu.
“Mungkin rumah ini sekarang menjadi sarang penjahat,” kata Leon dalam hati. Ia mengintip lewat jendela kaca. Lewat korden yang sedikit tersingkap ia bisa melihat dengan jelas, ada dua orang di ruang depan sedang bercakap-cakap. Tapi mereka bukanlah orang yang jejak kakinya diikuti Leon. Sebab kaki mereka tidak cacat. Siapakah mereka? Siapa pula orang yang jejak kakinya hanya satu itu? Leon bertanya-tanya di dalam hati.
Karena matahari semakin tinggi dan ia punya tugas rumah yang harus diselesaikan, Leon segera meninggalkan rumah tua itu. Namun ia tetap memantau rumah tua itu hingga tau siapa penghuninya.
Ketika Leon sampai di jalan, ia terkejut mendengar suara orang yang ditujukan kepadanya.
“Hai! Berhenti!”
Leon menoleh. Seketika jantungnya berdesir. Seseorang muncul dari semak belukar. Wajahnya berjambang menakutkan, dan juga pincang. Ia berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat penyangga. Dialah orang yang jejak kakinya diikuti Leon. Terbukti orang itu berjalan hanya dengan satu kaki.

“Jangan takut, Nak. Aku tidak bermaksud jahat.” Kata orang itu sambil mendekati Leon. Tetapi Leon tidak percaya. Ia menyangka orang itu pastilah salah satu dari gerombolan penjahat yang menghuni rumah itu.
Setapak demi setapak Leon melangkah mundur.
“Jangan takut, Nak! Jangan takut!” kata orang itu. Tetapi tiba-tiba saja ia menghentikan langkahnya ketika sebuah mobil tampak berjalan mendekat. Orang itu tergesa-gesa bersembunyi sambil berseru, menyuruh Leon pergi.
“Pergi! Cepat! Pergi!” teriaknya disertai isyarat gerakan tangan mengusir.
Sementara mobil semakin dekat, Leon baru sadar bahwa ia harus berhati-hati dengan mobil yang mungkin berisi orang jahat. Tetapi mungkin juga polisi yang bermaksud menggerebek gerombolan penjahat.
Leon dapat melihat dengan jelas empat orang pria segera turun dari mobil. Dengan gagah mereka berjalan menuju rumah tua.
“Apa yang hendak mereka lakukan?” Tanya Leon di dalam hati. Ia terus melangkah sambil menoleh ke belakang memperhatikan 4 orang itu. Tiba-tiba saja ia dikejutkan pria bercambang tadi yang telah berdiri di depannya. Lagi-lagi jantung Leon berdegup kencang.
“Jangan takut, Nak. Namaku Dibyo. Aku mantan polisi. Kakiku cacat terkena golok penjahat waktu menjalankan tugas dulu. Sekarang aku minta tolong padamu sekali ini saja. Teleponlah nomor ini. Katakan bahwa Dibyo masuk perangkap! Sekarang juga, Nak! Larilah sebelum mereka menghilangkan jejak!” Kata bapak bernama Dibyo ini.
Tanpa pikir panjang Leon menerima sesobek kertas itu, lalu lari sekencang-kencangnya untuk pulang. Sesekali ia menoleh ke belakang. Dilihatnya Pak Dibyo merangkak di bawah mobil untuk memutus kabel. Sesampai di rumah ia langsung menuju telepon dan menyampaikan pesan Pak Dibyo dengan benar.
“Pesan Pak Dibyo saya terima. Elang segera meluncur!” Leon menjadi lega mendengar jawaban si penerima telepon, meski ia tidak tau arti sandi itu.  Ia segera berlari keluar lagi. Di ujung jalan sana tampak sebuah mobil merah tetap pada posisinya semula. Leon terus berlari untuk menemui Pak Dibyo yang kini bersembunyi di balik rimbunnya semak belukar.
“Bagaimana?” Tanya Pak Dibyo.
“Pesan Pak Dibyo saya terima, Elang segera meluncur,” jawab Leon.
“Bagus, sekarang pulanglah, Nak! Terimakasih kau telah membantuku,” kata Pak Dibyo. Tetapi Leon tidak mau pulang. Apalagi setelah melihat pasukan polisi berdatangan bergerak maju dari berbagai arah mengepung rumah tua itu.
“Kau tau siapa orang-orang yang ada di dalam rumah tua itu?” Tanya Pak Dibyo. Leon menggeleng.
“Mereka adalah pengedar narkoba. Mereka sedang melakukan transaksi. Mereka memang licin, selalu berpindah-pindah sehingga sulit dijebak dan diringkus. Tetapi lihatlah! Sekarang mereka harus menyerah,” kata Pak Dibyo menemani Leon menyaksikan penggerebekan kawanan penjahat itu. Ia pun melihat seorang polisi mendatangi Pak Dibyo dengan rasa hormat. Polisi itu berterima kasih atas informasi yang diberikan Pak Dibyo. Juga kepada Leon yang bersusah payah ikut menyampaikan informasi itu.
Beberapa saat kemudian Leon melihat Pak Dibyo berjalan kaki meninggalkan jejak sepatu yang hanya satu. Jejak yang pernah membuatnya heran dan takut.
***


PAK DIBYO

karya Salsabila :)



Beberapa hari kemudian, Leon kembali menemukan jejak sepatu itu lagi. Leon mengikuti jejak kaki itu, namun ia juga melihat ceceran darah di sekitar jejak kaki itu. Leon semakin penasaran dan pikirannya sudah tidak karuan.
“Ada apa ya sama Pak Dibyo? Kok ada ceceran darah begini?? Jangan-jangan… Ahh,  tidak mungkin.” Ujar Leon sambil memukul-mukul rambutnya.
Leon terus mengikuti jejak itu, namun semakin lama, jejak kaki itu semakin hilang. Darah yang berceceran juga semakin tak tampak. Jejak kaki itu mengarah menuju hutan. Leon terus menelusurinya karna sangat-sangat penasaran. Kini, jejak kaki itu mulai tampak lagi. Namun, sesampai di tengah hutan, tepatnya di sungai, jejak kaki itu hilang tanpa bekas.
Walaupun jejak kaki itu hilang tanpa bekas, namun ceceran darahnya justru bertambah banyak. Leon terus mengikuti ceceran darah itu, hingga akhirnya ia menemukan tubuh Pak Dibyo yang sudah terbaring lemah dan berlumuran darah. Leon menggoncang-goncangkan tubuh Pak Dibyo, namun Pak Dibyo tak bereaksi sedikitpun.
“Pak Dibyo, ada apa sama Bapak? Kenapa Bapak tak bereaksi ketika saya goncang-goncangkan tubuh Bapak? Bangun Pak, bangun!!” ucap Leon sambil setengah menangis dan menggoncang-goncangkan tubuh Pak Dibyo.
Leon menghubungi nomor polisi yang pernah Pak Dibyo berikan kepadanya. Ia menceritakan semua yang terjadi pada Pak Dibyo, dan mereka juga berkata bahwa akan segera datang. Leon lega mendengar jawaban itu.
“Untung aku membawa hand phone, coba kalau tidak. Aku harus pulang untuk bisa menelepon.” Ujar Leon.
Selang beberapa menit kemudian, para polisi datang bersama AMBULANCE.  Pak Dibyo pun dinaikkan ke AMBULANCE untuk segera dibawa ke Rumah Sakit. Sedangkan Leon ditanyai beberapa hal oleh para polisi.
“Terimakasih dek, telah membantu kami, kami akan selidiki lebih lanjut tentang kasus ini. Kami hendak ke Rumah Sakit, adek mau ikut?” Tanya seorang polisi.
Leon hanya menganggukkan kepalanya. Mereka ke Rumah Sakit tempat Pak Dibyo dirawat. Setelah diselidiki, ternyata di bagian perut Pak Dibyo ada bekas tusukan. Polisi akan menyelidiki lebih lanjut kasus ini.
Selang beberapa hari, setelah penyelidikan diketahui bahwa Pak Dibyo dibunuh oleh teman dari pengedar narkoba yang tertangkap kemarin. Dia tidak terima temannya ditangkap, maka ia pun menyerang Pak Dibyo. Akhirnya Sang pelaku pun ditangkap dan dipenjara seumur hidup. Sedangkan Pak Dibyo dimakamkan di pemakaman dekat rumah Leon.
“Leon, kami menemukan ini di saku Pak Dibyo.” Ucap seorang polisi.
“Apa ini Pak?” Tanya Leon bingung.
“Ini surat terakhir yang ditulis Pak Dibyo untukmu.” Jawab polisi yang lain.
Leon membaca surat itu. Isi surat :
Leon, Bapak minta kamu akan selalu menjadi anak yang baik, pemberani dan suka menolong. Jadilah polisi ketika kamu besar nanti, karna dunia ini akan senang, tenang dan damai ketika kau menjadi seorang polisi. Terimakasih kamu sudah mau membaca surat ini, semoga berguna bagimu.
Pak Dibyo 

Karyaku



LIBURAN YANG MENYENANGKAN

            Pada saat itu sedang liburan semester, aku dan Ayah menjemput Mama terlebih dahulu di Jogjakarta. Karna saat itu Mama sedang di Jogjakarta. Kami menunggu di dekat Stasiun Lempuyangan. Beberapa kemudian, Mama datang dan kami segera berangkat menuju objek wisata tujuan kami yang pertama yaitu di Pantai Parangtritis.
            “Udah lama nggak ke Paris ya Yah?” kata Mamaku.
            “Iya Ma, tapi beli minum dulu ya di jalan, tadi lupa bawain Sasa minum.” Jawab Ayahku.
            “Ha?? Paris?? Mama mau ke luar negri ke Paris gitu?? Wow, aku harus ikut.” Gumamku dalam hati.
            Setelah tiba di sebuah warung yang menjual aneka jus buah, kami berhenti sejenak. Mama bertanya padaku hendak memesan apa, dan aku menjawab menginginkan sebuah pop ice rasa cokelat. Tak lupa Mama juga membeli botol mineral untukku. Ayah juga mengisi bensin terlebih dahulu. Setelah itu, kami kembali melanjutkan perjalanan.
            “Sebenarnya mau kemana sih ini?? Kok daritadi aku hanya melihat hamparan pasir putih.” Gumamku dalam hati.
            Setelah 15 menit berlalu, aku melihat hamparan laut yang terbentang luas. Dan aku sadari bahwa Paris itu adalah Pantai Parangtritis. Hahaha, aku kira Mama mau pergi ke Paris. :v. Sesampai di  Pantai Parangtritis, kami mendapati angin sangat kencang, sampah, daun dan pasir beterbangan, kami tidak dapat membuka mata lebar-lebar. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Pantai Glagah saja.
            Perjalanan kami mulai kembali, waktu itu sudah pukul 10.00. Entah mengapa, perutku sudah terasa lapar, aku pun berkata kepada Mama.
“Mama, Sasa laper”
“Ya bentar ya, cari warung makan dulu” ujar Mama padaku.
            Kami berhenti di sebuah warung makan terlebih dahulu. Kami memesan nasi dengan lele sebagai lauknya. Setelah makan kami melanjutkan perjalanan menuju Pantai Glagah. Namun tiba-tiba suasana berubah menjadi mendung dn mulai turun hujan, kami berteduh terlebih dahulu. Setelah hujan reda, kami segera melanjutkan perjalanan.
            Sesampai di Pantai Glagah, Ayah memarkirkan motor terlebih dahulu. Setelah itu kami duduk di sebuah gubuk untuk beristirahat sejenak. Ada seorang pedagang asongan yang menawari kami, ia menjual lumpia, bakpao dll.
            “Sasa mau beli??” Tanya Mama padku.
Aku hanya menggelengkan kepala. Aku dan Ayah pun turun ke pantai untuk bermain air, sedangkan Mama memilih untuk duduk di gubuk itu. Awlanya, aku masih sedikit jera dengan ombak yang menyentuh kakiku, namun lama-lama aku berani juga. Karena ombak tidak menyentuh kakiku, aku pun menarik tangan Ayah. Namun, ombak yang datang saat itu cukup besar untukku, sehingga aku terbawa oleh ombak itu. Saat itu pikiranku sudah tidak karuan, sudah berpikir yang tidak-tidak. Aku juga mendengar suara Ayah memanggilku.
“Ya Allah, jangan ambil nyawaku dahulu, aku masih ingin hidup.” Doaku saat itu.
Yang membuatku terkejut, tiba-tiba aku sudah di pantai dan aku juga sudah berdiri tegak. Ku lihat bajuku dan baju Ayah basah kuyup. Aku dan Ayah langsung berjalan ke gubuk di mana Mama berada. Ayah menceritakan apa yang terjadi kepada Mama, Mama hanya bergidik ngeri. Setelah mendengar cerita Ayah aku tambah yakin bahwa saat itu aku memang terseret ombak. Namun, aku sama sekali tidak jera, bahkan aku sangat senang bila diajak ke pantai.
Aku segera bilas dan berganti pakaian. Setelah itu kami pulang ke Salaman. Di jalan kami membeli es buah terlebih dahulu. Setelah itu kami pergi ke Ramayana untuk membeli baju. Di sana kami memilih baju untuk kami beli. Setelah itu kami melewati escalator yang menurun, aku tidak berani menuruninya, dan aku pun digendong Mama saat itu. Maklum lah, saat itu aku masih kelas 2 SD. Setelah itu kami pulang ke Salaman.