Saat
itu aku sedang duduk di bangku kelas 2 SD. Pada hari itu, hari Selasa, saudara
sepupuku yang berasal dari Cipulir, Ciganjur dan Ciledug datang ke Magelang
untuk berlibur ke daerah sekitar Magelang dan Yogyakarta. Mereka tiba di
Magelang pada pukul 03.00 WIB. Mereka berkata bahwa seharusnya pukul 23.00
mereka tiba di Magelang, namun karena macet di jalan sehingga mereka harus
menempuh perjalanan yang lebih lama dari biasanya.
Pada hari Rabu, mereka memutuskan
untuk beristirahat di rumah terlebih dahulu, karena lelah di perjalanan.
Keluargaku yang berasal dari Cipulir adalah Budhe Ririn, Pakdhe Syukur, Mas
Farel, Mbak Anjra dan Rehan. Mbak Anjra saat itu sedang duduk di bangku kelas 4
SD, sedangkan Rehan duduk di bangku kelas 1 SD, Mas Faril sedang duduk di
bangku kelas 2 SMA. Sedangkan keluargaku yang berasal dari Ciganjur adalah Mbah
Jampo, Mbah Niti dan Mbak Dinda. Mbak Dinda seperti Mbak Anjra yang sedang
duduk di bangku kelas 4 SD. Nah, keluargaku yang berasal dari Ciledug bernama
Budhe Yayuk, Om Aziz, Mas Rio dan Saskia. Mas Rio sama seperti Mbak Anjra dan
Mbak Dinda sedang duduk di bangku kelas 4 SD, sedangkan Saskia sedang duduk di
bangku TK Kecil.
Pada hari Rabu itu, Budhe Ririn
mengajakku untuk ikut pergi ke Candi Borobudur keesokan harinya. Pada keesokan
harinya aku bersiap-siap untuk pergi ke Candi Borobudur. Untungnya Budhe Ririn
juga mengajak Simbah untuk ikut pergi ke Candi Borobudur sehingga aku tidak
sendiri. Pukul 09.00 WIB kami berangkat ke Candi Borobudur. Sesampai di sana,
kami langsung naik ke Candi. Tapi Mbah Kuslani, Mbah Maman, Budhe Ririn, Mbah
Niti, Mbah Jampo dan Rehan tidak ikut naik ke Candi Borobudur karena lelah.
Akhirnya aku bersama Mbak Anjra, Mbak Dinda, Mas Farel, Mas Rio dan Saskia
tetap naik ke Candi karena kami ingin berfoto di puncak Candi Borobudur.
Kami berjalan menuju loket untuk
membeli tiket. Setelah membeli tiket, kemudian kami memasuki Candi Borobudur.
Kata penyewa payung di sana, kami harus berjalan sekita 1 km untuk sampai ke
Candi Borobudur. Sehingga kami ditawari untuk menyewa payung atau memilih
membeli topi. Kami tak menghiraukan mereka karena kami sudah membawa topi. Kami
harus naik tangga satu per satu untuk sampai di Candi. Kami selalu berhenti
untuk berfoto, setelah sampai di puncak kami turun untuk pulang.
Sesampai di bawah, kami mencari
Budhe Ririn, setelah bertemu dengan beliau, kami segera naik mobil untuk pergi
ke Candi Mendut. Setelah sampai di Candi Mendut, kami pergi ke loket untuk
membeli tiket. Kami sangat terkejut karena harga tiketnya hanya Rp 2500.
Setelah membeli tiket, kami masuk ke Candi Mendut. Di sana ternyata ada 3
patung besar. Kami keluar untuk pulang, karena kami hanya penasaran pada isi
Candi Mendut.
Di luar ternyata orang tua kami
sudah menunggu, kami pun dibelikan mie ayam dan es kelapa muda bulat. Awalnya
kami berniat untuk pergi ke Sentolo (Jogja Kulon Progo), tapi karena mendengar
cerita dari orang lain bahwa Jogja macet, kami memutuskan untuk pergi ke Jogja
besok saja. Setelah itu, kami pulang.
Pada hari Kamis, kami bersiap untuk
pergi ke Kolam Renang Wahana Pelangi di Jogja Kulon Progo. Kami menempuh
perjalanan selama kurang lebih 2 jam, kami menjemput saudara kami di Wates
terlebih dahulu. Setelah itu, kami berangkat menuju Kolam Renang Wahana
Pelangi. Sesampai di sana, kami langsung berganti pakaian renang dan segera
menceburkan diri di kolam renang.
2 jam kemudian, kami memutuskan
untuk bilas badan dan mandi. Setelah itu kami pergi ke Sentolo, perjalanannya
hanya 30 menit. Sesampai di Sentolo, kami beristirahat terlebih dahulu, sambil
menunggu kelapa muda yang sedang dipetik oleh Mbah Momon. Budhe Ririn, Budhe
Yayuk dan Mbah Niti mencairkan gula jawa dan memcahkan es batu untuk dibuat
Rujak Degan.
Pada pukul 15.00 kami pergi ke Wates
untuk menginap di sana. Sesampai di Wates kami bermain sepeda keliling desa.
Kemudian pergi ke Lapangan, di sana sangat ramai, bahkan ada kabar bahwa akan
ada konser ST 12 di sana.
Pada malam harinya, kami pergi ke
Malioboro untuk berbelanja. Kami berbelanja baju Joker, sendal, sepatu,
bolpoint, daster, tas, dan sebagainya. Kami tertawa dan merasa geli ketika
membaca papan di atas sebuah toko yang bertuliskan “Copet Dilarang Masuk”.
Memangnya ada copet yang mengaku bahwa dirinya copet?? Haha, kami sampai
tertawa terbahak-bahak.
Pada pukul 22.00 kami pulang ke
Wates untuk tidur di sana, karena pada esok harinya kami akan pergi ke Pantai
Glagah. Keesokan harinya, tepat pada pukul 09.00 kami pergi ke Pantai Glagah,
kami berpamitan pada keluarga yang ada di Wates karena setelah dari Pantai
Glagah kami langsung pulang ke Salaman.
Perjalanan memakan waktu selama 45
menit, sesampai di Pantai Glagah. Sebelumnya, aku bercerita kepada
sepupu-sepupuku bahwa aku pernah hampir terseret ombak di Pantai Glagah itu.
Awalnya mereka tidak percaya akan hal itu, tapi setelah aku bercerita bagaimana
kronologi kejadiannya akhirnya mereka percaya. Setelah itu, kami segera pulang
ke Salaman.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar